Rabu, 02 Oktober 2013

Tentang Kemiskinan Hidup Mahasiswa: Bab I

DIPERTIMBANGKAN DALAM SEGI EKONOMI, POLITIK, PSIKOLOGI, SEKSUAL DAN KHUSUSNYA ASPEK INTELEKTUAL, DENGAN SEBUAH PROPOSAL SEDERHANA UNTUK MENGOBATINYA

Mustapha Khayati (Situationist International)
dan mahasiswa-mahasiswa di Strasbourg, November 1966

* * *
BAB I

Untuk Membuat Sesuatu yang Memalukan Menjadi Lebih Memalukan Lagi Adalah Dengan Cara Mempublikasikannya.

Adalah suatu hal yang cukup aman untuk berkata bahwa mahasiswa adalah makhluk paling dianggap remeh di Perancis, disamping polisi dan pendeta. Tapi alasan-alasan tentang kenapa ia menjadi dianggap rendah seringkali merupakan sebuah alasan palsu yang hanya merefleksikan ideologi dominan, yang mana alasan-alasan di mana ia benar-benar dianggap remeh dari sudut pandang revolusioner tetap disembunyikan dan tersimpan rapat-rapat. Para partisan yang berasal dari oposisi palsu, bagaimanapun juga, sebenarnya menyadari kesalahan ini—kesalahan yang sebenarnya justru mereka lakukan sendiri. Mereka menjungkir-balikkan kejijikan mereka yang sesungguhnya menjadi sebuah puji-pujian terhadap patron-patron tertentu. Lantas intelelejensia orang-orang Kiri yang impoten justru bergembira dengan adanya "kebangkitan mahasiswa", dan pembusukkan organisasi-organisasi birokratis (seperti Partai Komunis) yang dicemburui atas dukungan "moral dan material"nya. Kami akan memperlihatkan alasan-alasan dengan fokus pada mahasiswa dan tentang bagaimana masalah mereka berakar dari kenyataan dominan dari situasi kapitalisme yang sangat mapan. Kami akan menggunakan pamflet ini untuk mencela mereka satu persatu: untuk menghajar alienasi diperlukan tindakan yang serupa dengan pengalienasian.

Hingga kini semua analisa dan studi tentang kehidupan mahasiswa telah melupakan isu-isu esensialnya. Tak ada satupun dari hal tersebut yang berhasil keluar dari sudut pandang spesialisasi akademis (psikologi, sosiologi, ekonomi) dan dengan demikian maka semuanya secara fundamental akan tetap merupakan sebuah error. Sudah sejak lama Fourrier mengekspos tentang hal ini sebagai "methodical myopia" yaitu suatu metode yang memperlakukan pertanyaan-pertanyaan fundamental tanpa melihat relasinya dengan keadaan pada saat ini dalam masyarakat secara keseluruhan. Kecenderungan pemujaan terhadap fakta-fakta justru menopengi kategori paling mendasar dan kategori-kategori yang esensial sehingga seseorang tak dapat lagi melihat totalitas atas seluruh detail yang ada. Segala sesuatu tentang tatanan masyarakat ini telah dibahas, kecuali tentang apa sesungguhnya tatanan masyarakatnya sendiri: sebuah masyarakat yang didominasi oleh komoditi dan spectacle. Para sosiolog, Bourderon dan Passedieu, dalam studinya berjudul Les Héritiers: les étudiants et la culture, tetap impoten dalam menghadapi beberapa kebenaran parsial yang mau tak mau harus mereka demonstrasikan dengan berhasil. Demi maksud baik, mereka justru telah jatuh kembali ke dalam moralitas professorial, etika Kantian yang tak terelakkan dalam sebuah demokratisasi sesungguhnya melalui sebuah rasionalisasi nyata dalam sistem pendidikan—itu dia, sistem pendidikan; saat murid-murid mereka, para pengikut Kravetz(1), mengimbanginya malah justru dengan kebencian birokratik kelas menengah yang dikembangkan melalui fraseologi revolusioner yang sudah ketinggalan jaman.

Reifikasi dari spektakularisasi(2) kapitalisme modern memberi setiap orang sebuah peran yang spesifik dalam sebuah kepasifan umum, tidak terkecuali para mahasiswa. Bagi mereka, itu adalah sebuah peran sementara, sebuah latihan bagi peran utama mereka di kemudian hari sebagai sebuah elemen konservatif yang memfungsikan sistem komoditi. Menjadi mahasiswa hanyalah sebagai sebuah bentuk inisiasi.

Inisiasi ini secara magis mengikhtiarkan kembali seluruh karakteristik inisiasi mistis. Hal itu membuat mahasiswa tetap terpotong dari kenyataan historis, sosial dan individual. Mahasiswa menjalani dua kehidupan, terposisikan di antara status saat ini dengan status masa depan yang terpisah, yang pada suatu saat akan ditolaknya dengan kasar. Sementara ini, kesadaran schizofrenik mereka membuat diri mereka terlepas dari "kelompok inisiasinya sendiri", melupakan masa depan dan bersenang-senang dalam keadaan tak sadarkan diri yang sangat mistis, yang merupakan tempat mereka berlindung dari sejarah. Hal ini tidaklah mengherankan saat melihat bagaimana mereka menolak menghadapi situasi mereka sendiri, terutama pada aspek ekonomi. Dalam "masyarakat yang telah makmur", mereka tetaplah makhluk yang miskin. Lebih dari 80% mahasiswa datang dari kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan sedikit lebih di atas kelas pekerja, sementara 90% dari mereka sendiri memiliki uang jauh lebih rendah dari yang dimiliki rata-rata para pekerja. Kemiskinan mahasiswa adalah sebuah bentuk anakronisme dalam masyarakat spectacle: belum lagi kemiskinan baru yang akan dihadapi para mahasiswa dalam kehidupan proletariat yang menunggu mereka. Dalam periode di mana semakin banyak anak-anak muda yang semakin berusaha membebaskan diri dari prasangka moral dan otoritas keluarga, sebagaimana yang mereka jadikan subyek secara blak-blakan, secara terang-terangan mengeksploitasi masa muda mereka, mahasiswa justru berpegang teguh pada sikapnya yang tak bertanggung jawab dan larut pada sikap kekanak-kanakkan mereka yang berlarut-larut. Krisis remaja yang datang terlambat cenderung menjauhkan mereka dari keluarga, tapi mereka justru tanpa mengeluh menerima diperlakukan seperti seorang bayi saat berbagai institusi mengendalikan kehidupan sehari-hari mereka. (Apabila institusi-institusi tersebut sekali waktu berhenti mengencingi wajah para mahasiswa tersebut, hal tersebut justru membuat para mahasiswa merasa terganggu).

Kemiskinan mahasiswa adalah ekspresi terjelas dari kolonisasi segala aspek praktik-praktik sosial. Merupakan proyeksi dari segala rasa bersalah masyarakat, yang kemudian menopengi mahasiswa dari kenyataan kemiskinan dan penghambaan yang dialami setiap orang.

Tetapi kejijikan kami terhadap mahasiswa berdasarkan pada alasan-alasan yang cukup berbeda. Mahasiswa menjadi menjijikan bukan hanya karena kemiskinan mereka, tetapi juga karena kepuasan diri mereka sendiri atas segala bentuk kemiskinan, kecenderungan mereka yang tak sehat untuk berkubang dalam alienasi diri mereka sendiri, berharap hal tersebut akan menjadi menarik di tengah ketidak-menarikkan mereka. Kebutuhan kapitalisme modern menentukan bahwa kebanyakan mahasiswa akan menjadi sekedar kader-kader rendahan (dengan mengatakan bahwa mereka memiliki sebuah fungsi yang sama dengan para pekerja yang berskill di abad ke-19).(3) Berhadapan dengan kemiskinan yang terang-terangan dan sudah di depan mata, yang menjadi "kompensasi" bagi kemiskinan mereka saat ini yang sangat memalukan, para mahasiswa memilih untuk bergerak melampaui apa yang mereka dapatkan dan mendekorasinya dengan ilusi-ilusi yang glamor. Sayangnya, kompensasi utama mereka adalah justru dengan melihat melampaui hal-hal di atas: masa depan, yang sebenarnya sama suramnya dan tetap begitu-begitu saja sebagaimana hari-hari mereka kemarin. Maka mereka memilih untuk menjadi seorang pengungsi ke dalam kehidupan mereka saat ini yang tidak nyata.

Mahasiswa adalah budak-budak yang sabar: di mana semakin banyak rantai otoritas mengikat mereka, semakin mereka merasa bebas. Seperti juga keluarga baru mereka, universitas, mereka menganggap diri mereka sebagai makhluk yang paling "independen", di mana pada kenyataannya mereka secara langsung dan sukarela bersikap patuh pada dua sistem otoritas sosial yang terkuat: keluarga dan negara. Mahasiswa adalah anak yang patuh dan penurut. Mengikuti logika anak penurut, mereka membagi segala nilai-nilai dan mistifikasi sistem, serta mengkonsentrasikannya ke dalam diri mereka sendiri. Ilusi-ilusi yang sebenarnya diperuntukkan bagi pencekokkan para pekerja kerah putih sekarang justru dengan sukarela diinternalisasikan dan ditransmisikan oleh dan bagi calon kader-kader rendahan di masa datang.

Jika kemiskinan sosial masa lampau memproduksi sistem-sistem yang menakjubkan sebagai kompensasi dari sejarah (agama-agama), mahasiswa dalam kemiskinannya yang terpinggirkan, tak dapat menemukan pelipur laranya selain imaji-imaji paling usang dari kelas borjuis, ejekan-ejekan yang merupakan pengulangan dari segala produk yang teralienasi.

Sebagai makhluk yang ideologis, mahasiswa Perancis selalu hadir terlambat. Segala nilai dan antusiasme yang merupakan kebanggaan dunia mereka yang sempit, telah sejak lama dikutuk oleh sejarah sebagai sesuatu yang menggelikan dan ilusi-ilusi yang tak tertahankan.

Dahulu kala, universitas memiliki sebuah prestise khusus; mahasiswa menjadi yakin bahwa mereka beruntung karena diterima di sana. Tapi mereka sangat terlambat. Pendidikan mekanikal dan spesialisasi telah mengalami degradasi yang parah (dalam kaitannya dengan tingkat kultur borjuis secara umum)(4) sebagaimana juga tingkat intelektualitasnya, karena sistem ekonomi modern menuntut mahasiswa-mahasiswa yang diproduksi secara massal, yang telah dibuat sehingga tak mampu lagi berpikir. Universitas menjadi sebuah organisasi pembodohan yang institusional; "kultur tinggi" sendiri telah didegradasikan dalam ban berjalan di pabrik-pabik untuk mencetak profesor. Tetapi para mahasiswa tidak sadar akan hal ini; mereka tetap mendengarkan dosen-dosennya dengan penuh respek, dengan sungguh-sungguh meniadakan segala semangat kritis yang dengan demikian membenamkan diri mereka ke dalam ilusi mistis tentang menjadi seorang "mahasiswa", seseorang yang dengan sangat serius menekuni hal-hal yang juga serius, dengan harapan bahwa profesor mereka pada akhirnya akan memberikan kebenaran sejati dunia pada mereka. Hingga saat tersebut menjadi sebuah menopause bagi semangat-semangat yang pernah ada. Masyarakat revolusioner masa depan secara alamiah akan mengutuk segala ruang-ruang ceramah dan kelas-kelas sebagai sesuatu yang berisik, polusi verbal. Mahasiswa akan menjadi sebuah lelucon yang paling buruk.

Mahasiswa tidak menyadari bahwa sejarah mengubah juga dunia kecil mereka yang "tertutup". "Krisis universitas" yang terkenal, menjelaskan dengan detail tentang kapitalisme modern yang dalam keadaan lebih krisis lagi, tetapi tetap menjadi sekedar obyek dari dialog bisu-tuli antar berbagai spesialis. Hal tersebut mengekspresikan kesulitan-kesulitan dari sektor-sektor industri dalam usahanya yang sudah terlambat untuk memperbaiki seluruh transformasi aparatus produktif.

Sisa-sisa ideologi universitas borjuis liberal yang sudah ketinggalan jaman menjadi dangkal berbarengan dengan lenyapnya dasar-dasar sosialnya. Selama era pasar bebasnya kapitalisme, saat negara liberal meninggalkan sedikit saja kebebasan yang tersisa untuk universitas, universitas malah mengimajinasikannya sebagai sebuah kekuatan independen. Tapi bahkan kemudian saat universitas terikat secara intim pada tipikal kebutuhan masyarakat saat ini: dengan catatan bahwa kebutuhan tersebut untuk memberikan privilase bagi kaum minoritas sebuah pendidikan umum yang memadai, sebelum mereka ini mengambil posisinya dalam kelas yang berkuasa. Hal-hal tersebut adalah hasil kekonyolan para profesor yang nostalgis(5), yang sakit hati karena kehilangan fungsi utama mereka sebagai anjing penjaga yang melayani kepentingan majikan masa depannya, saat fungsi mereka kemudian menjadi lebih rendah yaitu sebagai anjing penggembala yang bertugas menggembalakan jemaat kerah putih ke arah pabrik-pabrik dan kantor-kantor yang penuh respek, sesuai dengan kebutuhan ekonomi yang telah direncanakan. Profesor-profesor tersebut memegang pendapat-pendapat tolol mereka sebagai sebuah alternatif atas teknokratisasi universitas dan kesinambungan yang tak dapat diganggu gugat untuk kemudian menyediakan sisa-sisa kultur "umum" bagi audien-audien spesialis masa datang yang tidak akan pernah tahu bagaimana cara menggunakan kemampuan tersebut.

Yang lebih serius dan jelas lebih berbahaya adalah para modernis Kiri dan mereka yang dipimpin oleh UNEF dengan para ekstrimis FGEL-nya, yang menuntut sebuah "reformasi struktur universitas" atas "reintegrasi universitas ke dalam kehidupan sosial ekonomi", atau bisa dikatakan sebagai sebuah tuntutan untuk reformasi atas adaptasi universitas terhadap kebutuhan kapitalisme modern. Berbagai fakultas dan sekolah yang pernah menyuplai "kultur umum" kepada kelas yang berkuasa, walaupun masih mempertahankan beberapa prestise anakronistisnya, kini telah tertransformasikan menjadi pabrik yang bertugas menyuap dengan paksa ideologi demi akselerasi garis belakang kader-kader tengah dan rendahan. Jauh dari keikutsertaan dalam proses historis ini, yang mensubordinasikan satu dari beberapa sektor kehidupan sosial yang masih relatif otonom demi tuntutan sistem komoditi, protes yang progresif melawan keterlambatan dan ketidakefisienan dalam pemenuhannya. Mereka adalah para partisan dari universitas cybernetik masa depan, yang telah muncul di sana sini.(6) Sistem komoditi dan pelayan-pelayan modernnya—merekalah musuh yang sesungguhnya.

Tetapi seluruh perjuangan tersebut secara alamiah telah berada dalam kepala setiap mahasiswa, di suatu tempat di antara dunia surgawi para master mereka. Keseluruhan hidup para mahasiswa tersebut berada di luar kontrol mereka sendiri, seluruh hidup berada di luar jangkauan mereka.

Dikarenakan kemiskinan ekonomi yang sangat akut, mahasiswa dikutuk untuk selalu melakukan tindak survival yang rendahan. Tetapi selalu membuat diri mereka bangga, mereka juga memparadekan kefakir miskinannya yang sangat biasa-biasa seakan-akan hal tersebut adalah sebuah "gaya hidup" yang orisinil: mereka membuat pembenaran kebaikan dari kegembelannya dan berpura-pura menjadi seorang bohemian. "Bohemianisme" tersebut sangat jauh dari solusi atas masalah apapun, selain pada intinya yang jelas-jelas konyol, mereka menyataan bahwa seseorang dapat hidup dengan gaya hidup bohemian tanpa perlu sebuah pemutusan hubungan yang definitif dan kompit dengan lingkungan pergaulan universitas. Tetapi bohemianisme mahasiswa (dan semua mahasiswa yang merasa bahwa mereka adalah seorang bohemian di hati mereka) sangat tergantung pada versi imitatif dan terdegradasi dari bohemianisme itu sendiri, yang dalam banyak kasus, hanya sebuah solusi individual yang biasa-biasa saja. Bahkan perempuan-perempuan tua yang hidup di pinggiran lebih banyak tahu tentang hidup daripada diri mereka. Mahasiswa tersebut sangat "tidak konvensional" sehingga selama tigapuluh tahun setelah Wilhelm Reich(7), seorang pendidik kaum muda yang sangat menarik, mereka masih juga mengikuti bentuk-bentuk tradisional dalam kebiasaan percintaan yang erotis, mereproduksi relasi umum dalam relasi interseksual yang terdapat dalam masyarakat yang masih terbagi atas kelas-kelas sosial. Kegampangan para mahasiswa untuk direkrut sebagai seorang militan dalam berbagai kasus adalah sesuatu yang cukup mendemonstrasikan keimpotenan mereka yang sesungguhnya.

Disamping ada tidaknya waktu yang dapat digunakan oleh para mahasiswa dalam batas kebebasan individual yang diperbolehkan oleh spectacle totalitarian, mahasiswa menghindar untuk berpetualang dan bereksperimen, serta lebih memilih untuk merasa aman—walaupun hal tersebut merupakan rantai yang mengikat mereka—dalam ruang dan waktu yang telah diorganisir demi kepentingan para penjaga sistem. Walaupun tidak terang-terangan memisahkan antara waktu kerja dan waktu senggang, mahasiswa justru melakukannya dalam pandangannya sendiri, saat dengan munafik mereka memproklamirkan kejijikan mereka terhadap "musuh mahasiswa". Mereka menerima setiap pemisahan dengan kehadiran mereka dalam klub-klub keagamaan, olah raga, atau klub yang berbau politik, untuk meratapi ketiadaan komunikasi. Saking bodoh dan menyedihkannya, mereka dengan sukarela mendaftarkan diri pada University Psychological Aid Centers (BAPU), yaitu agensi-agensi polisi yang mengontrol mahasiswa secara psikologis, yang dikembangkan oleh para penindas modern yang avant-garde dan secara alamiah malah dirayakan sebagai sebuah kemenangan besar bagi serikat-serikat pelajar.(8)

Tetapi kemiskinan kehidupan sehari-hari mahasiswa yang sesungguhnya justru ditemukan di dekat mereka sendiri, sebuah kompensasi fantastis dalam opium komoditi kultural. Dalam kultur yang hanya merupakan spectacle, mahasiswa menemukan tempat alamiah mereka sebagai seorang murid yang patut direspek. Walaupun sudah sedemikian dekat dengan titik produksi, akses kepada tempat-tempat suci kebudayaan tetap ditutup bagi mereka; maka mereka menemukan "kultur modern" sebagai seorang pemerhati yang setia. Dalam era di mana seni telah mati mahasiswa tetap menjadi pematron yang loyal pada teater-teater dan klub-klub film dan sebagai konsumer yang paling keranjingan terhadap rongsokan-rongsokan dari bangkai awetan yang dikemas menawan dan didisplay di supermarket-supermarket, yang sebenarnya diperuntukkan bagi ibu-ibu rumah tangga yang kaya raya. Mengkonsumsi dengan tak terbendung dan tak dapat dikritik, adalah salah satu elemen yang tak terpisahkan dari mahasiswa. Apabila "pusat-pusat kebudayaan" tidak eksis, maka para mahasiswalah yang akan mempeloporinya. Mereka adalah bukti hidup dari segala kekosongan riset pasar Amerika: konsumer yang sangat menyolok, lengkap dengan penyikapan mereka yang berbeda tapi cenderung artifisial terhadap produk-produk yang sangat identik dengan ketololan mereka, dengan pilihan-pilihan irasional terhadap merk X (Pérec atau Godard, sebagai contohnya) dan sebuah prasangka yang juga irasional terhadap merk Y (Robbe-Grillet atau Lelouch, mungkin).

Dan ketika "tuhan-tuhan" mereka yang memproduksi dan mengorganisir spectacle kultural bagi mereka mengambil alih bentuk manusia dari panggung pertunjukan, para mahasiswa tetap ada di barisan penonton, seorang penonton yang sempurna. Mahasiswa berubah menjadi massa dalam pameran-pameran mereka yang sangat aneh. Saat para pendeta dari gereja-gereja yang berbeda merepresentasikan dialog-dialognya yang mengawang-awang (seminar pemikiran "Marxis", konferensi intelektual Khatolik) atau saat reruntuhan literer hadir bersamaan untuk memberanikan mahasiswa agar melihat pada keimpotenan diri mereka sendiri (lima ribu mahasiswa hadir dalam sebuah forum "Apa Kemungkinan Yang Tersedia Bagi Dunia Literatur?"), siapa selain para mahasiswa yang hadir di ruang-ruang tersebut?

Atas ketidakmampuan mereka atas hasrat yang sesungguhnya, para mahasiswa mencari rangsangan ke dalam polemik-polemik yang tak bergairah di antara para selebritis yang sama sekali tak intelek: Althusser—Garaudy—Sartre—Barthes—Picard—Levebvre—LevisStrauss—Halliday—Châtelet—Antoine... dan di antara rival-rival ideologis mereka yang berfungsi untuk menopengi masalah-masalah sesungguhnya dengan cara memperpanjang lebarkan masalah-masalah palsu seperti: Humanisme—Eksistensialisme—Cybernetikisme—Planéteisme—Metafilosofisme...

Mahasiswa berpikir bahwa dirinya adalah seorang avant-garde saat mereka telah memperhatikan karya terbaru Godard, atau telah membeli buku terbaru Argumentist(9), atau berpartisipasi dalam sebuah happening yang diorganisir oleh Lapassade, si manusia brengsek itu. Mahasiswa menemukan bahwa perjalanan paling mutakhir adalah sesuatu yang diproduksi oleh pasar sebagai versi perpanjangan tangan dari petualangan (walaupun hal itu jelas sudah ketinggalan jaman); dan dalam ketidakpeduliannya mereka mengambil semua pengulangan-pengulangan untuk sebuah revolusi kultural. Fokus utama mereka yang prinsipil selalu saja untuk mempertahankan status kulturalnya. Mereka berbangga hati dengan membeli, seperti juga yang terjadi di mana-mana, buku-buku yang merupakan cetak ulang dari teks-teks yang penting dan sulit dimengerti yang disebarkan oleh "kultur massa" dengan sangat cepat.(10) Sayangnya mereka tidak tahu bagaimana cara membacanya. Mereka mengambil manfaat darinya hanya dengan cara memandang buku-buku tersebut penuh kekaguman.

Bacaan favorit para mahasiswa adalah koran-koran yang secara khusus mempromosikan pengkonsumsian hal-hal baru dengan penuh gairah; mereka dengan patuh menerima pernyataan-pernyataan di dalamnya sebagai penuntun selera mereka. Mereka menggemari L’Express atau Le Nouvel Observateur, atau mungkin mereka lebih memilih Le Monde, yang mereka rasa sebagai koran yang sangat akurat dan benar-benar "obyektif", walaupun mereka tetap berpikir bahwa gaya penulisannya dalam beberapa hal terlalu sulit. Untuk memperdalam pengetahuan umumnya, mereka beralih pada Planéte, majalah cerdik dan menakjubkan yang menggeser gagasan-gagasan dan noda-noda hitam ide-ide lama. Dengan beberapa petunjuk, mereka berharap untuk memperoleh pengertian tentang dunia modern dan menjadi sadar politik.

Di Perancis, lebih daripada di manapun juga, para mahasiswa cenderung dipolitisir. Tetapi partisipasi politis mereka termediasikan oleh spectacle yang sama. Jadi mereka menggenggam seluruh ampas dari puing-puing Kiri yang telah dihajar lebih dari empat puluh tahun yang lalu oleh reformisme "sosialis" dan kontra-revolusinya Stalinis. Para pemimpin kaum Kiri tersebut telah sangat sadar walaupun dengan agak membingungkan, bahwa gerakan pekerja telah mengalami kekalahan, yang dengan demikian juga berarti merupakan kekalahan para pekerja itu sendiri. Tetapi para mahasiswa tetap tidak peduli pada hal tersebut, dan tetap terus berpartisipasi secara sembarangan dalam demonstrasi-demonstrasi yang paling menggelikan, yang tak pernah dapat berhasil menarik siapapun untuk terlibat di dalamnya kecuali para mahasiswa sendiri. Ini adalah kesadaran politik yang palsu dalam titik terdalamnya, sebuah fakta yang membuat universitas menjadi ladang perburuan yang menggembirakan bagi para manipulator dari organisasi-organisasi birokratis yang sebenarnya telah sekarat (dari partai "Komunis" hingga UNEF). Dengan cara yang totalitarian para birokrat tersebut memprogram opsi-opsi politik bagi para mahasiswa. Kadang terdapat beberapa kecenderungan penyimpangan dan impuls-impuls "independensi" yang kecil, tetapi setelah melalui sebuah periode tertentu, tanda-tanda perlawanan para pembangkang tersebut diinkorporasikan kembali ke dalam sebuah aturan yang secara fundamental tak pernah mereka pertanyakan.(11) Kelompok "Revolutionary Communist Youth", yang namanya sendiri merupakan sebuah kasus pendistorsian yang akut (mereka bukanlah kelompok revolusioner, bukan komunis, bahkan juga bukan kelompok pemuda), berbangga hati dengan sikap pemberontakannya terhadap Partai, kemudian mengambil posisi di samping Paus dengan seruannya untuk menciptakan "Perdamaian di Vietnam".

Para mahasiswa berbangga hati dalam sikap oposisinya terhadap "pernyataan-pernyataan kuno" rezim de Gaulle, tetapi mereka melakukan hal ini dengan ketidakmengertiannya beralih pada kejahatan yang lebih tua lagi (seperti misalnya pada Stalinisme dalam era Togliatti, Garaudy, Khruschev dan Mao). Sikap-sikap "muda" para mahasiswa jadinya hanya benar-benar lebih kuno daripada rezim yang ditentangnya sendiri—para Gaullis setidaknya telah memahami dengan baik masyarakat modern ini untuk dapat menjalankan pemerintahannya.

Tetapi ini semua bukanlah satu-satunya kekunoan para mahasiswa. Mereka merasa memiliki kewajiban pada ide-ide umum tentang segala sesuatu, hingga pandangan logis atas dunia yang mengawang-awang yang memungkinkan mereka untuk meminjam arti bagi kebutuhan mereka akan aktifitas yang membuat tertekan dan persetubuhan aseksual. Mereka bergegas dengan gairah atavistik, mencintai bangkai Tuhan yang telah membusuk dan merayakan semua sisa-sisa yang masih tertinggal dari agama-agama prehistorik dengan keyakinan bahwa hal-hal tersebut dapat memperkaya diri mereka dan masanya. Bersamaan dengan para perempuan tua di daerah pinggiran, para mahasiswa membentuk kategori sosial dengan presentase tertinggi dalam tingkat kefanatikan atas agama mereka. Di manapun juga para pendeta diledek atau dipukuli, tetapi para klerik di universitas secara terbuka melanjutkan perampokan atas ribuan mahasiswa dalam rumah brengsek spiritualnya.

Kita harus menambahkan bahwa ada juga para mahasiswa yang tingkat intelektualitasnya dapat ditolerir. Tetapi mereka di kemudian hari dengan mudah memposisikan diri dalam aturan-aturan yang menyedihkan, yang didesain untuk mengontrol lebih banyak lagi mahasiswa-mahasiswa yang biasa, dan mereka mampu melaksanakannya dengan tepat karena mereka mengerti sistem yang berlaku, karena mereka membenci sistem tersebut dan mengerti bahwa diri mereka adalah musuh baginya. Para mahasiswa ini ada dalam sistem pendidikan untuk mendapatkan hal-hal terbaik yang ditawarkan: katakanlah itu sebagai upah. Untuk mengeksploitasi kontradiksi tersebut, setidaknya untuk sementara, menuntut sistem tersebut tetap sebagai sebuah sektor "riset" akademis yang kecil dan relatif independen, mereka dengan tenang terus membawa kuman-kuman pemberontakannya ke tingkat tertinggi: kebencian mereka yang terbuka atas sistem yang berlaku sebagai pengimbang yang jernih yang memungkinkan mereka untuk mengisi kekurangan-kekurangan sistem tersebut, terutama dalam hal intelektualitas. Mereka berada dalam jajaran para teoris gerakan revolusioner masa depan, dan berbangga hati saat mereka mulai ditakuti. Mereka tidak merahasiakan fakta bahwa mereka menyadap dengan mudah "sistem akademik" dan menggunakannya untuk menghancurkannya. Mahasiswa tak dapat memberontak melawan apapun tanpa melawan sistem pendidikannya, walaupun keperluan pemberontakan ini dianggap kurang natural bagi diri para mahasiswa dibandingkan bagi para pekerja, yang secara spontan memberontak melawan kondisi mereka sebagai pekerja. Tetapi mahasiswa adalah sebuah produk dari masyarakat modern seperti Godard dan Coca-Cola. Alienasi ekstrim mereka dapat dihajar melalui penyerangan terhadap seluruh masyarakat. Kritik ini bagaimanapun juga tak dapat dibawa keluar dari medan mahasiswa: para mahasiswa, sejauh ini sebagaimana mereka mendefinisikan diri mereka sendiri, mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan sebuah nilai palsu yang menghalangi mereka untuk sadar akan kekurangannya, dan hasilnya mereka tetap berada di puncak kesadaran palsu. Tetapi di manapun juga, di mana masyarakat modern mulai diserang, anak-anak muda selalu mengambil bagian dalam penyerangan ini; dan pemberontakan ini merepresentasikan sebuah kritik yang langsung dan tak tanggung-tanggung atas kebiasaan mahasiswa.

0 komentar:

Poskan Komentar