Rabu, 27 November 2013

Hasrat Kami Sendiri Yang Akan Membangun Revolusi (Ringkasan)

Constant

Dipublikasikan pertama kali dalam bahasa Prancis di majalah COBRA #4 pada tahun 1949. Terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh Lucy Lippard. Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Andre Barahamin.
* * *
Kepada masing-masing kita yang artistik, seksual, sosial dan hasrat-hasrat lain yang telah tercerahkan, eksperimen adalah alat yang dibutuhkan untuk pengetahuan atas ambisi-ambisi kita – sumber-sumbernya, tujuan-tujuan, kemungkinan-kemungkinan dan limitasi-limitasi.

Tapi apakah yang bermanfaat dalam perjalanan dari satu titik ekstrim ke titik yang lainnya, seperti manusia, dan melebihi semua standar dari rintangan-rintangan yang menegangkan oleh moral, estetika, dan filsafat? Apakah yang menjadi alasan dari kebutuhan untuk menghancurkan ikatan-ikatan sosial yang membuat kita tetap berada dalam sistem sosial selama ratuasan tahun dan terima kasih untuk apa yang sanggup untuk dipikirkan, hidup, kreasi? Kebudayaan kita tidaklah kapabel 

Pada faktanya, kebudayaan ini tidak pernah cukup kapabel untuk memuaskan siapapun, baik itu seorang budak, ataupun seorang tua yang memiliki seluruh alasan untuk mempercayai bahwa dirinya bahagia di dalam kemewahan, dalam nafsu, di mana seluruh daya potensi kreatif individual telah terpusat.

Saat kita mengatakan tentang hasrat di abad keduapuluh, kita merujuk pada ketidaktahuan, yang kita tahu adalah alam hasrat adalah apa yang terus menerus terpantul kembali ke hasrat kebebasan seseorang yang tidak terbatas. Sebagai tugas paling mendasar kami menawarkan pembebasan dari kehidupan sosial, yang mana akan membuka jalan menuju dua baru – dunia di mana seluruh aspek kultural dan relasi batin dari kehidupan mendasar kita akan memiliki arti yang baru.

Adalah tidak mungkin untuk mengetahui apa itu hasrat selain dengan cara memuaskannya, dan kepuasan dari hasrat dasar kita adalah revolusi. Oleh karena itu, seuruh aktifitas kreatif yang nyata – yang mana, aktifitas kultural di abad keduapuluh – harusnya memiliki akar pada revolusi. Revolusi itu sendiri akan mampu membuat kita mengenali hasrat kita, bahkan mereka yang hidup di tahun 1949. Revolusi yang tidak memiliki definisi apapun! Materialisme dialektika yang telah mengajarkan kita bahwa kesadaran bergantung ada kondisi-kondisi sosial, dan saat hal-hal tersebut menghalangi kita dari kepuasan, kebutuhan kita mendorong kita untuk menyingkap makna sejujurnya dari hasrat-hasrat kita. Hasil dari hal tersebut berujung pada eksperimen-eksperimen, atau pada pelepasan pengetahuan. Eksperimen itu sendiri tidak hanya bertindak sebagai instrument pengetahuan, sebaliknya ia merupakan kondisi dari pengetahuan itu sendiri di rentang waktu di mana kebutuhan kita tidak lagi berhubungan dengan kondisi kultural yang seharusnya menyiapkan sebuah toko outlet mengenai hal ini. [...]

...menjadi bebas adalah seperti menjadi kuat; kebebasan hanya muncul dalam kreasi atau dalam gesekan - dan hal-hal ini memiliki tujuan yang sama di dalam hati - memenuhi hasrat kehidupan.

Hidup menuntut kreasi dan kecantikan adalah hidup.

Jadi jika masyarakat berbalik menentang kita dan menentang hasil-hasil kreasi kita, mencoba menyalahkan kita karena menjadi "tidak komprehensif", kita seharusnya membahas:

  1. Bahwa kemanusiaan di 1949 tidaklah kapabel untuk mengerti apapun sehingga menjadi kebutuhan mendesak sebuah perjuangan untuk kebebasan.
  2. Bahwa kita tidak ingin untuk 'dimengerti', melainkan ingin bebas, dan kita diharuskan untuk bereksperimen dengan sebab-sebab yang sama yang menyebabkan dunia terjebak di dalam perang.
  3. Bahwa kita tidak bisa menjadi kreator di dalam dunia yang pasif, dan gesekan yang terjadi hari ini menjadi landasan bagi penemuan-penemuan.
  4. Akhirnya, bahwa humanisme, sekali ia menjadi kreatif, tidak akan memiliki pilihan apapun selain mengacuhkan estetika dan konsep-konsep etik yang hanya bertujuan untuk menghalangi kreasi -- konsepsi-konsepsi ini bertanggung jawab atas ketidakmengertian manusia hari ini tentang eksperimen.

Oleh karena itu, pemahaman tidak lebih dari upaya mengkreasikan sesuatu yang lahir dari hasrat yang sama. Humanisme (di mana kita termasuk di dalamnya) sedang berada di ambang dari penemuan-penemuan dari hasrat-hasrat itu sendiri, dan dengan memuaskan mereka kita akan membuat mereka mengerti.

0 komentar:

Posting Komentar