Rabu, 27 November 2013

Masyarakat Spectacle: Chapter 2

Komoditi Sebagai Spectacle
Chapter 2

“Komoditi dapat dimengerti dalam esensinya yang tak terdistorsikan hanya saat ia menjadi kategori masyarakat universal secara menyeluruh. Hanya dalam konteks inilah maka reifikasi diproduksi oleh relasi-relasi komoditi yang mengasumsikan penegasan penting baik bagi evolusi obyektif masyarakat dan juga bagi perilaku yang diadopsi oleh manusia terhadapnya, sebagaimana ia menaklukkan kesadaran mereka ke dalam bentuk-bentuk yang mana reifikasi menemukan ekspresinya. … Seperti bagaimana buruh semakin terus dirasionalisasikan dan dimekanisasikan, penaklukan ini didorong fakta bahwa aktivitas manusia semakin berkurang keaktifannya dan semakin kontemplatif.”
Georg Lukács, Sejarah dan Kesadaran Klas

35
Dalam praktik dasar spectacle yang menginkorporasikan ke dalam dirinya sendiri seluruh aspek-aspek cair aktivitas manusia yang sebagaimana juga untuk merengkuh mereka dalam sebuah bentuk yang dikentalkan, dan menginversikan nilai-nilai hidup ke dalam nilai-nilai yang sepenuhnya abstrak, kami menemukan musuh lama kami komoditi, yang mana pada awalnya ia tampak remeh dan jelas, padahal sesungguhnya sangatlah kompleks dan penuh dengan seluk beluk metafisis.

36
Fethisisme komoditi—pendominasian masyarakat oleh “benda-benda yang tak nyata sebagaimana juga oleh yang nyata”—mencapai puncak pemenuhannya dalam spectacle, di mana dunia nyata digantikan oleh sebuah seleksi atas citra-citra yang telah diproyeksikan atasnya, yang mana pada saat yang sama berhasil dalam mem-buat diri mereka dianggap sebagai ringkasan realita.

37
Dunia yang dihadirkan dan sekaligus absen yang oleh spectacle diajukan untuk dilihat adalah dunia komoditi yang mendominasi seluruh pengalaman hidup. Dunia komoditi dengan demikian memperlihatkan artinya sen-diri, karena perkembangannya identik dengan pemisahan manusia dari sesamanya dan dari apapun yang di-produksinya.

38
Hilangnya kualitas adalah sesuatu yang tampak sangat jelas di setiap tingkat bahasa spektakular, dari obyek-obyek yang diagungkannya hingga perilaku yang diaturnya, berakar dari karakteristik dasar sebuah sistem produksi yang menjauhkan diri dari realita. Bentuk komoditi mereduksi segala sesuatu menjadi disamakan secara kuantitatif. Kuantitatif adalah apa yang dikembangkan olehnya, dan ia hanya dapat berkembang secara kuantitatif.

39
Mengesampingkan fakta bahwa pengembangan ini menyingkirkan segi kualitatif, dirinya sendiri merupakan subyek bagi perubahan kualitatif. Spectacle merefleksikan fakta bahwa pengembangan ini telah menyeberangi ambang pintu keberlimpahan dirinya sendiri. Walaupun perubahan kualitatif ini baru saja mengambil bentuknya hanya secara sebagian dalam beberapa area lokal, ia telah secara implisit berada di tingkat universal yang mana sebelumnya ditempati oleh standar original komoditi—sebuah standar yang telah dihidupi oleh komoditi dengan cara membuat keseluruhan planet menjadi sebuah pasar tunggal dunia.

40
Pengembangan kekuatan-kekuatan produksi adalah sejarah tak sadar yang sesungguhnya membentuk dan mengubah kondisi-kondisi hidup kelompok-kelompok manusia—kondisi-kondisi yang memungkinkan mereka bertahan hidup dan mengekspansikan kondisi-kondisi tersebut. Hal tersebutlah yang selama ini menjadi dasar ekonomi yang dijalankan oleh manusia. Dalam ekonomi-ekonomi yang natural, hadirnya sebuah sektor komoditi merepresentasikan sebuah perjuangan hidup dari keberlebihan. Produksi komoditi yang berimplikasi pada per-tukaran berbagai macam produk antara para produsen independen, dalam jangka waktu yang lama cenderung berada dalam aspek-aspek kerajinan tangan skala kecilnya, menurunkan derajatnya sendiri menjadi sebuah pe-ran ekonomi pinggiran di mana realita kuantitatifnya masih tersembunyi. Tetapi saat hal tersebut dihadapkan pada kondisi-kondisi sosial perdagangan skala besar dan akumulasi kapital, ia mengambil kontrol total atas ekonomi. Keseluruhan ekonomi lantas menjadi apa yang telah diperlihatkan sendiri oleh komoditi yang menjadi jalur penguasaannya: sebuah proses dari pengembangan kuantitatif. Ekspansi kekuasaan ekonomi yang kon-stan dalam bentuk komoditi-komoditi ini mentransformasikan kerja manusia sendiri ke dalam sebuah komoditi, ke dalam kerja upahan, dan pada puncaknya memproduksi sebuah tingkat keberlebihan yang cukup untuk me-nyelesaikan masalah-masalah utama dalam upaya bertahan hidup—tetapi hanya dengan cara di mana masalah yang sama secara berkelanjutan dilahirkan kembali dalam tingkat yang lebih tinggi. Pertumbuhan ekonomi telah membebaskan masyarakat-masyarakat dari berbagai tekanan alam yang memaksa mereka untuk berjuang demi bertahan hidup, tetapi masyarakat-masyarakat tersebut belum juga terbebaskan dari para pembebasnya sendiri. Independensi komoditi telah menyebar hingga pada keseluruhan ekonomi yang didominasinya. Ekono-mi ini telah menransformasikan dunia, tetapi ia sekedar menransformasikannya ke dalam sebuah dunia yang di-dominasi oleh ekonomi. Alam palsu yang mana di dalamnya kerja manusia telah menjadi tuntutan-tuntutan yang dialienasikan sehingga kerja selamanya akan tetap siap pakai; dan semenjak tuntutan ini diformulasikan oleh dan dijawab oleh dirinya sendiri, hal tersebut pada faktanya berakhir dengan menyalurkan seluruh proyek-pro-yek yang diijinkan secara sosial dan mengoperasikannya menjadi bagian dari kekuatan barunya sendiri. Keber-lebihan komoditi-komoditi—yaitu, keberlebihan relasi-relasi komoditi—berisi tak lebih daripada sebuah upaya bertahan hidup yang jauh lebih besar lagi.

41
Sepanjang peran ekonomi sebagai dasar material dari kehidupan sosial tak terdeteksi atau terpahami (tetap tak diketahui dengan pasti karena ia terlalu familiar), kekuasaan komoditi atas ekonomi diaplikasikan dalam sebuah perilaku yang tersembunyi. Dalam masyarakat-masyarakat di mana komoditi-komoditi aktual hanya sedikit dan jarang, uang yang tampaknya jadi jelas berkuasa, bekerja sebagai representatif yang berkuasa penuh atas se-buah kekuatan terbesar yang masih tetap tak diketahui. Dengan divisi kerja manufaktural dan produksi mas-salnya Revolusi Industri bagi sebuah pasar global, komoditi pada akhirnya menjadi terlihat sepenuhnya sebagai sebuah kekuatan yang mengolonisasi seluruh kehidupan sosial. Hal tersebut adalah poin yang mana ekonomi politik telah memapankan dirinya sendiri sebagai ilmu yang dominan dan sebagai ilmu dominasi.

42
Spectacle adalah tahap di mana komoditi telah berhasil sepenuhnya mengolonisasi kehidupan sosial. Komodifi-kasi tidak hanya terlihat, kita tak lagi melihat apapun selain hal tersebut; dunia yang kita lihat adalah dunia ko-moditi. Produksi ekonomi modern mengembangkan kediktatorannya baik secara ekstensif maupun intensif. Di regional-regional yang belum terlalu terindustrialisasi, kekuasaannya telah dimanifestasikan melalui hadirnya beberapa komoditi favorit dan melalui dominasi imperialis yang diterapkan oleh regional-regional yang lebih ma-ju secara industrial. Di regional yang disebut terakhir, ruang sosial diselimuti dengan hukum-hukum komoditi yang selalu diperbaharui. Dengan “revolusi industri kedua”, konsumsi yang mengalienasi telah menjadi seperti sebuah kewajiban bagi massa dari produksi yang teralienasi. Seluruh kerja yang dijual oleh masyarakat telah menjadi sebuah komoditi sepenuhnya yang mana lika-likunya yang konstan harus selalu dijaga berapapun juga harganya. Untuk menuntaskan hal ini, komoditi total ini harus dikembalikan dalam bentuk yang terpisah pada in-dividu-individu yang terpisah, yang sepenuhnya terputus daris keseluruhan operasi kekuatan produksi. Hingga pada akhirnya ilmu dominasi yang terspesialisasi dipilah dalam spesialisasi-spesialisasi lebh jauh seperti sosio-logi, psikologi terapan, cybernetika dan semiologi, yang menerapkan aturan-aturannya sendiri dari setiap fase prosesnya.

43
Di mana selama tahap akumulasi kapitalis primitif “ekonomi politik menganggap proletarian hanya sebagai se-orang pekerja”, yang hanya butuh dipenuhi kebutuhan minimum yang tak terelakkan untuk menjaga tenaga ker-janya, dan tak pernah dianggap “dalam waktu luang dan kemanusiaannya”, perspektif klas penguasa ini direvi-si sesegera keberlebihan komoditi mencapai sebuah tahap yang membutuhkan sebuah kolaborasi tambahan dari sang pekerja. Sekali saja hari kerjanya selesai, pekerja langsung ditebus dari kemuakan akan dirinya sen-diri yang secara jelas diimplikasikan oleh setiap aspek organisasi dan pengawasan produksi, dan menemukan dirinya seakan diperlakukan sebagai orang dewasa, dengan sebuah kesopanan yang diperlihatkan terang-te-rangan, dalam peran barunya sebagai seorang konsumen. Dalam poin ini humanisme komoditi telah mengatasi “waktu luang dan kemanusiaan” sang pekerja sekedar karena ekonomi politik kini dapat dan harus mendomina-si ruang-ruang lingkup tersebut sebagai ekonomi politik. “Pengingkaran yang sempurna atas manusia” dengan demikian mengatasi seluruh eksistensi manusia.

44
Spectacle adalah sebuah perang candu permanen yang didesain untuk memaksa orang-orang agar menyama-kan barang-barang dengan komoditi-komoditi dan menyamakan kepuasan dengan sebuah upaya bertahan hi-dup yang berkembang sesuai dengan hukum-hukumnya sendiri. Upaya bertahan hidup dengan cara mengon-sumsi ini secara konstan diperlebar karena ia tak pernah luput dalam menampilkan privasi. Apabila upaya ber-tahan hidup yang lebih besar tak pernah menjadi sebuah resolusi, apabila tak ada poin di mana ia akan berhenti melebar, hal ini dikarenakan dirinya sendiri tertahan dalam sebuah alam privat. Ia mungkin dapat menyepuh ke-miskinan, tetapi ia tak dapat menransendensikannya.

45
Otomatisasi, yang mana merupakan sektor paling maju dari industri modern dan sekaligus merupakan esensi praktisnya, mengharuskan sistem komoditi menyelesaikan kontradiksi berikut: Perkembangan teknologi yang secara obyektif cenderung mengeliminasi kerja di saat yang sama harus menjaga agar kerja tetap menjadi se-buah komoditi, karena kerja adalah satu-satunya pencipta komoditi-komoditi. Satu-satunya cara untuk mence-gah otomatisasi (atau metoda yang tak terlalu ekstrem dalam meningkatkan produktivitas kerja) dari pereduk-sian kebutuhan waktu kerja total masyarakat adalah dengan menciptakan lapangan-lapangan kerja baru. Pada akhirnya pasukan pengangguran yang hadir akan kembali ke dalam sektor “jasa”, memperkuat pasukan yang bertanggung jawab atas pendistribusian dan pengagungan komoditi-komoditi terbaru; dan di dalamnya mela-yani sebuah kebutuhan nyata, dalam artian meningkatkan kampanye-kampanye ekstensif yang dibutuhkan un-tuk meyakinkan orang-orang agar membeli semakin banyak komoditi-komoditi yang tak berguna.

46
Nilai tukar akan meningkat sebagai sebuah representatif dari nilai guna, tetapi kemenangan pada akhirnya di-menangkan dengan senjatanya sendiri yang diciptakan dari kondisi-kondisi bagi otomatisasi kekuasaannya sen-diri. Dengan memobilisir seluruh nilai guna manusia dan memonopoli pemenuhannya, nilai tukar pada akhirnya berhasil dalam mengontrol kegunaan. Kegunaan telah dilihat secara murni dalam terminologi nilai tukar, dan ki-ni dilengkapi dengan pemahaman. Bermula seperti sebuah alasan yang melayani nilai guna, nilai tukar pada ak-hirnya melancarkan perang seperti seharusnya.

47
Runtuhnya nilai guna secara konstan telah selalu menjadi karakteristik dari ekonomi kapitalis yang membang-kitkan sebuah bentuk baru kemiskinan dalam daratan upaya bertahan hidup yang berkelebihan—bersama-sa-ma dengan kemiskinan lama yang masih hadir, semenjak sejumlah besar orang masih terpaksa untuk meng-ambil bagian sebagai pekerja upahan dalam pengejaran akhir sistem ini tanpa akhir dan masing-masing dari mereka tahu bahwa mereka harus terlibat atau mati. Realita pemerasan ini—fakta bahwa nilai guna bentuk-ben-tuk yang paling memiskinkan (pangan, perumahan) kini telah tak eksis lagi di luar kekayaan-kekayaan ilusif dari upaya bertahan hidup yang berkelebihan—diperhitungkan atas penerimaan umum dari ilusi konsumsi komoditi modern. Konsumen yang sesungguhnya telah menjadi seorang konsumen dari ilusi-ilusi. Komoditi adalah ilusi yang dimaterialkan ini, dan spectacle adalah ekspresi umumnya.

48
Nilai guna pada awalnya dipahami sebagai sebuah aspek implisit dari nilai tukar. Kini, bagaimanapun juga, da-lam dunia spectacle yang serba terbalik, ia harus diproklamirkan secara eksplisit, baik karena realita aktualnya telah dikikis oleh ekonomi komoditi yang terlalu berkembang dan karena ia menjadi sebuah pembenaran palsu yang penting bagi sebuah hidup tiruan.

49
Spectacle adalah sisi dari keping mata uang. Ia, juga, adalah sebuah penyetaraan umum yang abstrak atas se-luruh komoditi. Tetapi di mana uang mendominasi masyarakat sebagai representasi dari penyetaraan umum—pertukaran barang-barang yang berbeda di mana gunanya tetap tak dapat dikomparasikan—spectacle adalah pelengkap modern dari uang: sebuah representasi dunia komoditi sebagai sebuah keseluruhan yang berfungsi sebagai penyetara umum bagi apa yang seluruh masyarakat dapat jadikan atau dapat lakukan. Spectacle ada-lah uang yang hanya dapat seseorang dilihat, karena di dalamnya seluruh gunanya telah dipertukarkan bagi re-presentasi abstrak yang menyeluruh. Spectacle tidak hanya sebuah pelayan bagi kegunaan-palsu, ia juga telah menjadi sebuah kegunaan palsu dari hidup.

50
Dengan pencapaian keberlebihan ekonomi, hasil yang terkonsentrasikan dari kerja sosial menjadi terlihat, me-nyubyekkan seluruh kenyataan ke dalam penampakan-penampakan yang kini adalah produk utama dari kerja. Kapital tak lagi menjadi pusat tak nampak yang mengatur proses produksi; sebagaimana ia berakumulasi, ia menyebar ke ujung dunia dalam bentuk obyek-obyek yang konkrit. Ekspansi menyeluruh atas masyarakat ada-lah potretnya.

51
Kemenangan ekonomi sebagai sebuah kekuatan independen di saat yang sama telah memantrai kiamatnya sendiri, karena kekuatan-kekuatan yang dilepaskannya telah mengeliminasi kebutuhan ekonomi yang sebelumnya adalah dasar masyarakat-masyarakat lampau yang tak berubah. Mengganti kebutuhan tersebut dengan sebuah kebutuhan bagi pengembangan ekonomi yang tak terikat hanya dapat berarti mengganti kepuasan utama kebutuhan-kebutuhan manusia (yang kini sangat jarang terjadi) dengan sebuah kebutuhan-kebutuhan palsu buatan pabrik yang tak ada putusnya, semuanya yang pada puncaknya menyusut menjadi satu kebutuhan palsu yaitu memelihara kekuasaan ekonomi yang otonom. Tetapi ekonomi kehilangan semua koneksitasnya dengan kebutuhan-kebutuhan otentik sejauh ia berkembang dari ketidaksadaran sosial yang tanpa diketahui bergantung padanya. “Apapun yang sadar akan lenyap. Apa yang tidak sadar tetap tak dapat diubah. Tetapi sekali saja ia terbebaskan, ia akan hancur berkeping-keping.” (Freud)

52
Sekali masyarakat menemukan bahwa ia bergantung pada ekonomi, ekonomi pada faktanya bergantung pada masyarakat. Saat kekuatan yang dahsyat dari ekonomi tumbuh hingga ke poin dominasi yang kelihatan, ia kehi-langan kekuatannya. Id-nya ekonomi harus digantikan dengan Aku. Subyek ini hanya dapat bangkit dari masya-rakat, yaitu, dari perjuangan dalam masyarakat. Eksistensinya tergantung pada hasil yang didapat dari per-juangan klas yang berarti produk sekaligus produsen dari fondasi ekonomi sejarah.

53
Kesadaran hasrat dan hasrat akan kesadaran adalah proyek yang sama, proyek yang bentuk negatifnya beru-saha menghapuskan klas-klas dan dengan demikian kepemilikan langsung pekerja atas setiap aspek dari aktivitas mereka. Lawan dari proyek ini adalah masyarakat spectacle, di mana komoditi mengontemplasikan di-rinya dalam sebuah dunia yang merupakan ciptaannya sendiri.

bersambung di sini ...

0 komentar:

Posting Komentar