Rabu, 27 November 2013

Tentang Kemiskinan Hidup Mahasiswa: Bab III

BAB III

Setidaknya Untuk Membangun Sebuah Situasi Yang Tak Memiliki Titik Balik

"Menjadi avant-garde berarti berjalan berbarengan dengan kenyataan" (Internationale Situationniste no. 8). Kritik radikal atas dunia modern saat ini harus memiliki totalitas terhadap obyek dan sasarannya. Kritik ini harus dibawa untuk mengemban masa lalu dunia yang sesungguhnya kepada kenyataan saat ini dan menjadikannya sebuah prospek bagi terciptanya sebuah transformasi. Kita semua tak dapat menggenggam seluruh kenyataan dunia saat ini, tapi setidaknya dapat memformulasikan proyek atas subversi yang menyeluruh, kecuali kita dapat membuka seluruh sejarah yang tersembunyi, kecuali kita menyoroti seluruh sejarah dari gerakan revolusioner internasional yang diinisiasikan lebih dari seabad yang lalu oleh para proletariat di Barat, untuk mendemistifikasikan analisa-analisa yang kritis. "Gerakan yang melawan seluruh organisasi dari tatanan dunia lama ini, telah lama berakhir" (Internationale Situationniste no.7). Semuanya gagal. Manifestasi historis terakhirnya adalah revolusi proletarian Spanyol, yang dikalahkan di Barcelona di bulan Mei 1937. Tetapi "kekalahan" dan "kemenangan" resminya harus dinilai dari konsekwensi-konsekwensi yang jelas atas situasi dan kondisi mereka, dan kenyataan-kenyataan esensial mereka akan dapat dilihat dengan jelas. Dengan cara demikian, kita dapat menyetujui pendapat Karl Liebknecht, di masa menjelang pembunuhan atas dirinya, yang menyatakan bahwa "beberapa kekalahan adalah kemenangan yang luar biasa, saat beberapa kemenangan justru lebih memalukan daripada seluruh kekalahan." Maka "kekalahan" besar pertama dari kekuasaan proletarian, Komune Paris, dalam kenyataannya adalah kemenangan besar pertama yang untuk pertama kalinya proletariat masa itu mendemonstrasikan kapasitas historisnya untuk mengorganisir seluruh aspek kehidupan sosial dengan bebas. Justru saat "kemenangan" besar pertama, revolusi Bolshevik, hanya berakhir pada kekalahan yang penuh bencana. Kemenangan orde Bolshevik bertepatan dengan gerakan kontra-revolusi internasional yang bermula dengan dihancurkannya Spartakis oleh "Sosial Demokrat" Jerman. Persamaan kemenangan gabungan atas Bolshevikisme dan reformisme jauh lebih dalam daripada sikap permusuhan antara mereka yang tampak di permukaan, di mana aturan-aturan Bolshevik melangkah terlalu jauh hingga menjadi sekedar variasi baru dengan tema lama, sebuah bentuk baru dari orde lama. Hasil-hasil dari kontra-revolusi Russia, di dalam negeri, adalah pemapanan dan pengembangan sebuah metoda baru atas eksploitasi, kapitalisme-negara yang birokratis, dan di luar negeri, pertumbuhan sebuah gerakan "Komunis" internasional yang menyebarluaskan cabang-cabang yang berfungsi untuk melayani kepentingan tujuan yang mempertahankan dan mereproduksi model Russia mereka. Kapitalisme, dalam varian-varian borjuis dan birokratiknya, telah memenangkan sebuah kontrak hidup yang baru, di atas mayat para pelaut Kronstadt, petani Ukraina dan para pekerja di Berlin, Kiel, Turin, Shanghai dan akhirnya Barcelona.

Internasional Ketiga, dibuat oleh para Bolshevik seolah-olah untuk memerangi reformisme sosial-demokrat yang bobrok dalam Internasional Kedua dan mempersatukan para vanguard dari kaum proletariat ke dalam "partai-partai komunis revolusioner," yang terlalu dekat berhubungan dengan kepentingan-kepentingan para pelopornya untuk membawa sebuah revolusi sosialis yang sesungguhnya di mana-mana. Kenyataannya Internasional Ketiga adalah kelanjutan yang esensial dari Internasional Kedua. Model Russia secara masif dipaksakan ke dalam organisasi-organisasi pekerja di Barat dan evolusi-evolusi mereka sejak saat itu menjadi satu kesatuan yang sama. Kediktatoran totalitarian dari birokrasi kelas penguasa baru atas proletariat Russia menemukan gaungnya dengan menjadikan kelompok massa pekerja yang besar di negara lain sebagai subyek dari strata politik dari para birokrat serikat-serikat pekerja yang kepentingannya telah jelas-jelas berkontradiksi dengan landasan mereka. Saat monster Stalinis menghantui kesadaran kelas pekerja, kapitalisme telah menjadi terbirokratisasi dan terlalu dimapankan, menyelesaikan krisis internalnya dan dengan bangga memproklamirkan kemenangan baru ini sebagai sesuatu yang permanen. Mengesampingkan variasi-variasi dan oposisi-oposisi yang tampak, sebuah bentuk sosial baru mendominasi dunia, dan prinsip-prinsip dari dunia lama melanjutkan penguasaannya atas dunia modern kita. Tradisi dari generasi-generasi yang telah lama mati masih menghantui pikiran kita yang masih hidup saat ini.

Oposisi terhadap dunia ditawarkan dari dalam dunia itu sendiri, dalam medannya sendiri, dengan organisasi-organisasi revolusioner yang hanya merupakan sebuah oposisi dalam hal penampakannya saja. Beberapa oposisi, menyebarluaskan mistifikasi-mistifikasi terburuknya dan menyerukan ideologi-ideologi yang setidaknya sama-sama kaku, dengan tujuan menolong mengkonsolidasikan aturan dominan. Partai-partai dan serikat-serikat pekerja yang ditempa oleh kelas pekerja sebagai alat bagi emansipasi khusus mereka sendiri telah menjadi sekedar katup pengaman, menetralkan mekanisme sistem, kepemilikan privat dari para pemimpinnya yang bekerja demi emansipasi khususnya sendiri dengan menggunakan partai dan serikat tersebut sebagai batu loncatan bagi perannya dalam kelas penguasa di masyarakat yang tak pernah mereka pertanyakan bahkan dalam mimpi. Program partai atau undang-undang perserikatan mungkin membawa sisa-sisa fraseologi "revolusioner", tetapi dalam praktik mereka, di mana-mana adalah praktik reformis—dan seluruh kapitalismenya sendiri sekarang secara resmi telah menjadi reformis. Di manapun juga partai-partai tersebut berhasil mengambil kekuasaan—juga di negara-negara setelah Russia 1917—mereka hanya telah mereproduksi kontra-revolusi yang totalitarian model Stalinis.(14) Di tempat lain, mereka menjadi pro-negara dan benar-benar sempurna(15) untuk mengatur dirinya sendiri menjadi kapitalisme birokratis, sebuah bukti bahwa oposisi memang diperlukan untuk menjaga keutuhan humanisme yang bersifat seperti polisi. Sebagai lawan dari massa pekerja, mereka tetap menjadi pembela yang non-kondisional dan tak pernah gagal bagi birokrasi yang kontra-revolusioner serta menjadi makhluk yang patuh terhadap kebijakan luar negerinya sendiri. Merekalah penyokong kebohongan terbesar dalam dunia yang memang sudah penuh kebohongan, yang bekerja untuk mengekalkan kediktatoran ekonomi dan negara yang universal. Sebagaimana yang para situasionis katakan, "Sebuah sistem sosial yang dominan secara universal, yang cenderung menuju pemerintahan totalitarian yang membuat aturan-aturannya demi kepentingannya sendiri, secara visual hanya diperangi oleh bentuk-bentuk oposisi palsu yang tetap berada di medan sistem itu sendiri dan jadinya hanya berhasil memperkuat sistem yang diperangi. Sosialisme palsu yang penuh birokrasi adalah hanya sebuah penyamaran yang paling sempurna dari hirarki dunia lama dan sistem yang mengalienasikan para pekerja."

Dengan demikian, serikat-serikat mahasiswa hanyalah sekedar parodi atas sebuah parodi, repetisi lelucon yang sudah tak lucu lagi dari serikat-serikat pekerja yang telah terdegradasi sejak lama.

Teoritis dan praksis dari Stalinisme dalam seluruh bentuknya jelas merupakan kedangkalan yang paling rendah dari segala bentuk organisasi revolusioner masa depan. Telah jelas bahwa di Perancis, misalnya, di mana tulang punggung ekonomi telah mengaburkan kesadaran akan terjadinya krisis, gerakan revolusioner dapat lahir kembali hanya melalui pembunuhan terlebih dahulu terhadap Stalinisme. Kata-kata kunci yang secara konstan diulang-ulang dari revolusi terakhir dalam abad yang masih kuno ini seharusnya adalah: Stalinisme harus dihancurkan.

Revolusi harus jelas-jelas melepaskan diri dari kekunoannya sendiri dan mengorisinilkan seluruh tindakan-tindakan puitisnya akan masa depan. Sekelompok kecil "militan" yang mengklaim diri mereka sebagai representasi dari peninggalan Bolshevik yang otentik adalah suara yang berasal dari alam kubur; yang berkicau soal masa depan. Sekelumit puing-puing dari keruntuhan besar "revolusi yang terkhianati" akan selalu hadir di sekeliling kita untuk mempertahankan USSR; hal inilah yang justru merupakan pengkhianatan penuh skandal terhadap revolusi itu sendiri. Hampir tak mungkin bagi mereka untuk memapankan ilusi-ilusi mereka di luar negara-negara dunia ketiga(16), di mana mereka bertugas mengentaskan kemiskinan teortitis. Dari Partisans (organ saat ini yang mendamaikan Trotsky dan Stalin) hingga seluruh kecenderungan perdamaian di atas bangkai Trotsky baik di dalam maupun di luar Internasional Keempat, selain bernaung di bawah ideologi revolusioner yang sama, juga memiliki ketidakmampuan untuk melihat masalah-masalah di dunia modern, baik secara teoritis maupun praksis. Tindakan kontra-revolusi yang mereka lakukan selama empat puluh tahun lamanya telah menjauhkan mereka dari Revolusi. Dan semenjak sekarang ini bukan lagi tahun 1920, apa yang mereka lakukan jadi serba salah (walaupun di tahun 1920 apa yang mereka lakukan juga salah).

Pembubaran grup ultra-Kiri Socialisme ou Barbarie setelah divisi-divisi mereka terbelah menjadi dua faksi—"modernis-Cardanis" dan "Marxis tradisional" (Pouvoir Ouvrier)—adalah bukti, apabila memang dibutuhkan, bahwa tak akan pernah dapat terjadi revolusi di luar dunia modern, juga tidak bisa setiap pemikiran yang modern berada di luar penemuan kembali kritik-kritik revolusioner (Internationale Situationniste no.9). Setiap pemisahan yang dilakukan antara dua aspek tersebut di atas akan dengan tak terhindarkan akan terjerumus kembali kalau tidak ke dalam museum-museum revolusioner yang kuno atau ke dalam modernisme sistem, yang keduanya menjadi replika dari dua kelompok kontra-revolusi yang dominan: Voix Ouvrière atau Arguments.

Sedangkan bagi berbagai grup "anarkis", mereka tidak lebih daripada sebuah kelompok di mana ideologi hanya sekedar menjadi label, dan mereka semua terpenjara dalam label mereka sendiri. Le Monde Libertaire yang menakjubkanpun, ternyata diedit oleh para mahasiswa, merupakan pencapaian kebingungan dan ketololan dalam tingkat yang paling fantastis. Sejak mereka saling bertoleransi antara sesama kelompok yang mengaku revolusioner, mereka akan segera mentolerir segalanya.

Sistem sosial yang dominan, yang membaringkan dirinya dalam modernisasi permanennya, sekarang harus dikonfrontasi dengan sebuah oponen yang paling penting: negasi yang sama-sama modern yang sebenarnya diproduksi oleh dirinya sendiri.(17) Yang telah mati biarkan mengubur dirinya sendiri. Demistifikasi-demistifikasi praksis dari gerakan-gerakan historis mengusir roh-roh jahat yang bergentayangan menghantui kesadaran revolusioner; revolusi dalam kehidupan sehari-hari menemukan dirinya berhadap-hadapan langsung dengan luasnya keharusan ini. Baik revolusi maupun hidup itu sendiri telah dipermaklumkan untuk kembali ditemukan. Apabila proyek-proyek revolusioner secara fundamental tetaplah sama—penghapusan masyarakat kelas—hal ini adalah karena kondisi yang melahirkan proyek-proyek tersebut secara radikal juga tidak tertransformasikan kemanapun juga. Tetapi proyek ini harus dibangun kembali dengan sebuah keradikalan yang baru dan koheren, belajar dari kesalahan-kesalahan para revolusioner sebelumnya, sehingga realisasi parsialnya tidak akan sekedar membawa sebuah divisi baru dalam masyarakat.

Sejak perjuangan antara sistem saat ini dan proletariat baru hanya dapat dilakukan melalui totalitas, gerakan revolusioner di masa yang akan datang harus menghabisi dalam dirnya sendiri segala bentuk kecenderungan yang mereproduksi alienasi yang dihasilkan oleh sistem komoditi—sistem yang didominasi oleh hasil komoditi. Ia juga harus menjadi kritik yang terus hidup terhadap sistem ini, negasi yang membadani segala elemen yang dibutuhkan untuk transendensinya. Sebagaimana diperlihatkan dengan benar oleh Lukács bahwa, organisasi revolusioner adalah mediasi yang paling penting antara teori dan praktik, antara manusia dan sejarah, antara massa pekerja dan proletariat yang dikonstitusikan sebagai sebuah kelas. (Kesalahan Lukács hanyalah karena ia meyakini bahwa Partai Bolshevik telah memenuhi seluruh prasyarat tadi). Apabila mereka mulai merealisasikannya dalam tataran praksis, kecenderungan-kecenderungan dan perbedaan "teoritis" harus secara langsung diterjemahkan ke dalam pertanyaan-pertanyaan organisasional. Pada akhirnya segalanya tergantung pada bagaimana gerakan revolusioner yang baru menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan organisasional, tentang apakah bentuk organisasionalnya akan tetap konsisten dengan proyek-proyek esensialnya: realisasi internasional atas kekuasaan penuh dewan-dewan pekerja sebagaimana telah ditunjukkan sebelumnya oleh revolusi-revolusi proletarian di abad ini. Beberapa organisasi harus menekankan kritik radikal atas seluruh fondasi masyarakat yang mereka perangi, antara lain: produksi komoditi, ideologi dalam segala penyamarannya, negara dan separasi yang dihasilkannya.

Batu pertama yang telah diletakkan oleh gerakan revolusioner masa lalu, adalah separasi antara teori dan praktik. Hanya momen-momen terbaik dari perjuangan proletarian yang mampu mengatasi perpisahan ini dan mulai menjelajahi kebenaran mereka sendiri. Tak ada organisasi yang melampaui hal ini, menjembatani gap yang terjadi. Ideologi, tidak peduli "serevolusioner" apapun, selalu melayani kepentingan sang majikan; hal ini adalah sinyal alarm yang mengungkapkan kehadiran kolom kelima musuh. Ini sebabnya mengapa kritik atas ideologi dalam analisa terakhirnya harus tetap menjadi masalah utama bagi organisasi revolusioner. Kebohongan adalah produk dari dunia yang teralienasi dan hal itu tak akan dapat muncul dalam sebuah organisasi yang mengklaim membeberkan kebenaran sosial, tanpa hal itu, maka dengan demikian, organisasi hanya akan menjadi sebuah kebohongan lagi dalam dunia yang memang sudah penuh dengan kebohongan.

Seluruh aspek positif dari kekuatan dewan pekerja harus telah hadir mengembrio dalam setiap organisasi revolusioner yang bertujuan untuk merealisasikannya. Beberapa organisasi harus menyulut sebuah peperangan yang mematikan melawan teori Leninis tentang organisasi. Revolusi tahun 1905 dan spontanitas para pekerja untuk mengorganisir dirinya dalam soviet-soviet telah menjadi sebuah kritik nyata(18) atas teori-teori yang terkutuk. Tetapi gerakan Bolshevik tetap bertahan dalam keyakinannya bahwa spontanitas kelas pekerja dapat berjalan melampaui "kesadaran perserikatannya" dan tak mampu meraih "totalitas". Keyakinan ini akhirnya harus memenggal seluruh proletariat sehingga Partai dapat menempatkan dirinya sebagai "kepala" revolusi. Menentang kapasitas historis proletariat dalam mengemansipasikan diri mereka sendiri, sebagaimana yang Lenin lakukan dengan kejam, berarti meragukan kapasitas mereka untuk menjalankan seluruh tatanan masyarakat di masa depan. Dalam beberapa perspektif, slogan "Seluruh kekuatan bagi soviet-soviet" berarti tak lebih dari sekedar penaklukan seluruh soviet oleh Partai dan penginstalasian negara kepartaian di tempat proletariat bersenjata yang menyapu bersih "negara".

"Seluruh kekuatan bagi soviet-soviet" sekali lagi harus menjadi slogan kita, tetapi kali ini dalam artian literer, tanpa motif-motif ulterior Bolshevik. Proletariat dapat memainkan permainan revolusi hanya jika taruhannya adalah seluruh dunia; atau segalanya akan sia-sia belaka. Bentuk tunggal dari kekuatannya adalah, mempopulerkan sistem manajemen diri, yang tak dapat dibagikan dengan kekuatan lain. Dikarenakan ini adalah antisipasi dari segala bentuk kekuatan, maka hal tersebut dapat tak dapat mentolerir batas apapun (baik batas geografis ataupun batas lainnya); segala bentuk kompromi yang diterimanya dengan otomatis akan ditransformasikan ke dalam sebuah kelonggaran, kepada kekalahan. "Manajemen diri harus menjadi cara sekaligus tujuan perjuangan saat ini. Hal itu tidak hanya taruhan dalam perjuangan, melainkan juga sebagai bentuk yang paling memadai. ...Hal tersebut adalah material yang dikerjakan, sekaligus merupakan prakiraan itu sendiri." (dari "The Class Struggle in Algeria").

Sebuah kritik uniter (pembagian per unit) atas dunia adalah garansi atas koherensi dan kebenaran dari sebuah organisasi revolusioner. Mentolerir eksistensi sebuah sistem yang opresif di satu region atau di tempat lainnya (karena ia menghadirkan dirinya sebagai "revolusioner", misalnya) berarti juga melegitimasi penindasan. Mentolerir alienasi dalam satu domain saja dari kehidupan sosial berarti juga secara tak dapat dihindarkan membiarkan segala bentuk reifikasi. Tidaklah cukup sekedar mendukung dewan pekerja secara abstrak; sangatlah penting untuk mendemonstrasikan hal tersebut dengan konkrit: menghajar produksi komoditi dan sekaligus memperkuat proletariat. Mengesampingkan perbedaan superfisial tersebut, seluruh tatanan masyarakat yang eksis saat ini diatur oleh logika komoditi; inilah basis dari tata cara pengaturan sendiri sistem totalitarian. Reifikasi komoditi adalah hambatan esensial di jalan menuju sebuah emansipasi total, konstruksi kehidupan yang bebas. Dalam dunia produksi komoditi, praksis tidaklah menyertai tujuan-tujuan yang dideterminasikan secara otonom, melainkan menyertai kekuatan dari luar yang hadir secara langsung. Hukum-hukum ekonomi hadir sebagai tampilan hukum alam, tetapi kekuatan mereka semata-mata tergantung pada "ketiadaan kesadaran dalam diri mereka yang berpartisipasi di dalamnya."

Esensi dari produksi komoditi adalah hilangnya Diri dalam kreasi dunia yang kacau dan di luar kesadaran, yang sepenuhnya di luar kontrol para kreatornya sendiri. Sebagai kontrasnya, inti revolusioner yang radikal dari manajemen diri yang dipopulerkan adalah kesadaran setiap orang tentang seluruh hidup mereka. Manajemen diri atas alienasi komoditi akan hanya membuat setiap orang menjadi pemrogram atas pola bertahan hidup mereka sendiri—menggaris bawahi lingkaran kapitalisme. Tugas bagi dewan pekerja lantas bukanlah manajemen diri atas dunia yang eksis saat ini, melainkan transformasi interuptif yang kualitatif: transendensi yang komplit atas komoditi (yang disubversikan dengan sangat hebat dalam sejarah produksi manusia itu sendiri).

Transendensi ini secara alamiah mengimplikasikan penekanan dalam hal kerja dan menggantikannya dengan sebuah tipe baru dari aktifitas yang bebas, dan kemudian juga meluluh lantakkan separasi yang fundamental dalam masyarakat modern: yaitu meningkatnya buruh yang tereifikasi dan sebuah waktu senggang yang dikonsumsi dengan pasif. Saat ini, grup-grup yang telah membusuk seperti Socialisme ou Barbarie atau Pouvoir Ouvrier(19), walau menjadi pengawas modern atas Kekuatan Pekerja, justru terus mengikuti jalur yang digariskan oleh gerakan pekerja yang telah kuno dalam memberikan visi yang reformis atas pekerja melalui "humanisasi". Apa yang mereka lakukan sekarang harus diserang juga. Jauh dari sekedar menjadi "utopian", penekanan atas bidang kerja adalah kondisi pertama bagi transendensi yang efektif atas masyarakat komoditi, demi penghapusan dalam kehidupan setiap orang separasi antara "waktu bebas" dan "waktu kerja"—sektor-sektor melengkapi hidup yang teralienasi—yang merupakan sebuah ekpresi berkelanjutan dalam kontradiksi internal sistem komoditi antara nilai guna dan nilai tukar. Hanya saat oposisi ini teratasi maka seseorang akan mampu membuat aktifitas pentingnya menjadi subyek atas keinginan dan kesadarannya serta melihat dirinya sendiri dalam dunia yang ia sendiri ciptakan. Demokrasi dewan-dewan pekerja adalah solusi atas seluruh separasi saat ini. Ia akan membuat "segala sesuatu yang berada di luar nilai individual menjadi sesuatu yang tak mungkin eksis."

Kesadaran akan dominasi sejarah bagi orang-orang yang membuatnya—ini adalah sebuah proyek revolusioner yang menyeluruh. Sejarah modern, seperti juga seluruh sejarah masa lalu, adalah produk dari praksis sosial, hasil (yang tak disadari) dari seluruh aktifitas manusia. Dalam era dominasi totalitarian, kapitalisme telah memproduksi agama mereka sendiri: spectacle. Spectacle adalah realisasi yang membumi atas ideologi. Tak pernah sebelumnya dunia menjadi sangat terbalik. "Dan seperti juga ‘kritik atas agama’, kritik atas spectacle, saat ini adalah prakondisi yang esensial dari segala jenis kritik." (International Situationniste no.9).

Kemanusiaan adalah konfrontasi historis dengan masalah-masalah dari revolusi. Semakin maju hasil teknologi dan material berarti juga semakin dalam ketidakpuasan setiap orang. Kaum borjuis dan warisannya di blok Timur, birokrasi, tidaklah mampu mengisi kekurangan ini—yang justru akan menjadi basis puitis dari masa yang akan datang—secara tepat karena keduanya harus berusaha keras untuk merawat aturan-aturan lama. Hal yang paling sering mereka gunakan adalah dengan memperkuat kontrol polisi. Mereka tidak melakukan apapun selain mengakumulasikan kapital dan kemudian juga proletarian—seorang poletarian adalah seseorang yang tak memiliki kekuatan atas hidupnya sendiri dan sepenuhnya sadar akan hal tersebut. Adalah keuntungan historis bagi pra proletariat baru untuk menjadi satu-satunya pewaris yang konsekwen bagi kekayaan yang tak ternilai dalam dunia borjuis—kekayaan yang harus ditransformasikan dan digantikan dalam perspektifnya atas proyek pembentukan diri manusia sepenuhnya demi pencapaian yang tepat atas alam dan sisi alamiahnya sendiri. Realisasi alamiah manusia dapat hanya berarti pelipatgandaan yang tak terbatas dan kepuasan penuh atas hasrat tertinggi yang oleh spectacle ditekan ke dalam sudut tergelap dari ketidasadaran revolusioner, dan di mana hal tersebut hanya dapat direalisasikan melalui publisitas yang gila-gilaan, seperti mimpi dan fantastis. Realisasi aktual dari hasrat tertinggi—dapat dikatakan, sebuah penghapusan segala kebutuhan dan hasrat palsu yang diproduksi setiap hari oleh sistem dalam usahanya untuk mengekalkan kekuasaannya—tak dapat dilakukan tanpa penekanan dan transendensi positif atas spectacle komoditi.

Sejarah modern dapat dibebaskan, dan akuisisi-akuisisinya yang tak terhitung jumlahnya dapat dengan bebas digunakan, hanya dengan kekuatan yang selama ini ditekannya: para pekerja tanpa kekuasaan atas kondisi, hasil atau produk-produk yang dihasilkan oleh aktifitas mereka sendiri. Dalam abad ke-19 proletariat adalah pewaris filsafat; sekarang mereka telah menjadi pewaris seni modern dan kritik pertama yang penuh kesadaran atas kehidupan sehari-hari. Mereka tak dapat melakukan penekanan terhadap dirinya sendiri tanpa merealisasikan seni dan filsafat dalam waktu yang bersamaan. Mentransformasikan dunia dan mengubah hidup adalah satu hal yang tak terpisah dan juga merupakan hal yang sama bagi proletariat, password yang tak terpisahkan bagi penekanannya sebagai sebuah kelas, pemutusan hubungan dengan kebutuhan palsu yang berkuasa saat ini, yang pada akhirnya memiliki akses yang terbuka kepada berkuasanya kebebasan. Kritik radikal dan rekonstruksi bebas atas seluruh nilai-nilai dan pola-pola kebiasaan yang dicekokkan oleh realitas yang telah teralienasi adalah sebuah program dalam titik yang maksimum, dan kreatifitas bebas dalam pengkonstruksian seluruh momen-momen dan even-even kehidupan adalah satu-satunya puisi yang dikenal, di mana puisi dibuat oleh semua orang, yang menjadi awal bagi festival revolusioner. Revolusi-revolusi proletarian akan menjadi sebuah festival atau tidak sama sekali, membuatnya menjad festival adalah kata kunci terpenting dalam hidup yang mereka permaklumkan. Bermain adalah prinsip utama dalam festival ini, dan satu-satunya aturan yang berlaku adalah untuk hidup tanpa batas waktu dan untuk menikmatinya tanpa kekangan.

* * *

KETERANGAN:

1. Marc Kravetz, sorang orator cerdik yang dikenal luas di kalangan politisi UNEF, telah membuat kesalahan dengan berspekulasi dalam "riset teoritis": dalam tahun 1964 ia mempublikasikan sebuah pembelaan atas perserikatan mahasiswa dalam Les Temps Modernes di mana ia kemudian cela dalam periodikal yang sama setahun kemudian.

2. Tak perlu dikatakan lagi bahwa kami menggunakan konsep-konsep seperti spectacle, role, dsb., dalam pengertian situasionis.

3. Tapi seandainya tanpa kesadaran revolusionerpun, setidaknya para pekerja tidak memiliki ilusi-ilusi soal promosi.

4. Kami mengambil referensi dari persoalan kultur yang dikemukakan oleh Hegel atau dari Encyclopédistes, bukan dari Sorbonne atau dari Ecole Normale Supérieure.

5. Tidak berani lagi untuk berpendapat atas nama liberalisme filistin, mereka mencekokkan fantasi kebebasan dalam universitas-universitas Abad Pertengahan, yang membuka era "demokrasi tanpa kebebasan".

6. Lihat "Correspondence with a Cybernetician" dalam Internationale Situationniste no. 9 dan arsip situasionis berjudul La tortue dans la vitrine yang ditujukan melawan neo-profesor A Moles.

7. Lihat The Sexual Struggle of Youth dan The Function of the Orgasm.

8. Dengan seluruh sisa populasi lainnya, sebuah jaket pengikat dibutuhkan untuk memaksa mereka agar tampil sebelum para psikiater dalam hutan kegilaan. Tetapi dengan keberadaan mahasiswa, hal tersebut cukup diberitahukan kepada mereka bahwa pos-pos pengontrol yang advance telah didirikan dalam ghetto-ghetto mereka, dan mereka bergegas masuk ke dalamnya dengan mengantri setelah mendapatkan nomor urut.

9. Lihat pada artikel tentang geng Argumentis dan menghilangnya organ tersebut, dalam Into the Trashcan of History, yang didistribusikan oleh Situationist International pada tahun 1963.

10. Dalam artian ini, seseorang tak dapat terlalu merekomendasikan solusi yang telah dipraktikkan oleh mereka yang paling intelek, melainkan justru sebaiknya, mencurinya dari mereka.

11. Petualangan terakhir dari "Union of Communist Students" dan musuh Kristennya, memperlihatkan bahwa semua mahasiswa tersebut justru berada dalam satu prinsip fundamental: ketundukkan dalam kondisi apapun terhadap superior hirarkis.

12. Saat para partisan dari gerakan anti-bom tersebut berhasil melacak, mempublikasikan dan kemudian memasuki shelter yang sangat rahasia yang hanya dapat diperbolehkan bagi agen-agen pemerintah.

13. Kita dapat memikirkan di sini tentang jurnal yang menarik, Heatwave, yang tampak bergerak melampaui kekakuan radikal yang semakin meningkat.

14. Partai-partai tersebut berusaha keras mengindustrialisasikan negara-negara tersebut melalui akumulasi primitif klasik dengan mengorbankan kehidupan pertanian, yang diakselerasikan melalui teror birokratis.

15. Selama 45 tahun, Partai "Komunis" Perancis tidak juga mengambil langkah untuk merebut kekuasaan; dan hal ini benar-benar sama dengan yang terjadi di negara-negara yang telah mapan lainnya, yang tidak terjerumus ke bawah sepatu Tentara "Merah".

16. Tentang peranan mereka di Aljazair, lihat "The Class Struggles in Algeria" dalam Internationale Sittuationniste no. 10.

17. "Address to Revolutionaries..." dalam Internationale Situationniste no. 10.

18. Setelah kritik teoritis tentang hal tersebut oleh Rosa Luxemburg.

19. Secara kontras, grup seperti ICO, dengan teorinya yang koheren, justru menyatakan diri mereka tidak eksis.

* * *
APPENDIX I

Spectacle kata benda:

Organisasi tampilan yang dibuat eksis melalui cara-cara komunikasi modern (media). Bergerak perlahan dengan yang mana imaji-imaji dapat dilekatkan dan dialienasikan dari sumbernya, serta direorganisasi untuk membentuk representasi yang sejalan dengan ideologi kelas yang berkuasa, membentuk dasar-dasar teknis dalam lingkup yang lebih diutamakan dalam spectacle modern, di mana "segala sesuatu yang dulu langsung dihidupi, kini telah tersingkirkan menjadi sekedar representasi atasnya". Misalnya, sebuah iklan di televisi memperlihatkan sebuah keluarga dalam sebuah mobil berkendara dengan bahagia sepanjang perjalanan, kemudian "bersenang-senang" dalam ruang lingkup mobil yang sempit, tapi seakan mampu membawa kebahagiaan—sesuatu yang didambakan banyak manusia modern. Mobilnya diperlihatkan sebagai sebuah konteks yang paling menyenangkan: imaji mobil yang lantas disambungkan dengan imaji "bersenang-senang" menyarankan sebuah kebutuhan untuk membeli mobil sebagai sebuah cara untuk "mendapatkan" kesenangan dan kebahagiaan. Tapi pada faktanya, saat iklan tersebut dipertontonkan, jutaan orang tidaklah berbahagia hanya karena memiliki mobil untuk kemudian berkendara bersama keluarga. Atau pada contoh lain, misalkan seseorang yang akibat padatnya penduduk kota yang penuh polusi, bising dan mendorong timbulnya stress merindukan kehidupan alamiah yang tenang dan tenteram, ia tak perlu benar-benar pergi dari kota tempat tinggalnya, ia hanya perlu membeli televisi besar dan berlangganan siaran kabel, mencari saluran film tentang nuansa alam semisal National Geographic. Ingat iklan betapa televisi layar lebar dan datar serta didukung sistem audio modern mampu menghadirkan kenyataan ke rumahmu. Kita dilatih untuk mengkonsumsi imaji yang merupakan representasi atas kenyataan, tapi tidak menjalani kenyataan itu sendiri. Maka yang terjadi adalah bahwa seseorang tersebut tak pernah pergi ke lingkungan alami, ia akan menghabiskan waktunya dengan menonton televisi yang berarti sebuah aktifitas pasif, non-aktifitas.

Pengorganisiran aktifitas spektakular adalah pengorganisiran pasifitas dan pasifikasi sosial modern yang sesungguhnya—pengelompokan manusia sebagai sekedar pengamat atas penerimaan satu sisi dari imaji-imaji hidup mereka sendiri yang telah teralienasikan.

Tetapi spectacle bukanlah sekedar sebuah kumpulan imaji, melainkan sebuah relasi sosial antar manusia yang dimediasikan melalui imaji. Relasi nyata antar manusia ditransformasikan ke dalam sebuah relasi antar imaji. Contohnya, imaji Tony Blair di televisi yang mengunjungi Indonesia pertengahan awal tahun ini, bersalam-salaman dengan tokoh-tokoh ulama seperti Aa’ Gym dan mengadakan temu wicara dengan beberapa murid pesantren. Hal tersebut menampilkan Tony Blair yang merepresentasikan warga Inggris, merespek Aa’ Gym yang merepresentasikan umat muslim Indonesia; yang pada kenyataannya Tony Blair tak melakukan apapun saat di Inggris kasus-kasus kekerasan terhadap muslim akibat histeria terorisme merebak. Lagi, saat seorang "bintang film" atau "bintang olah raga" mengiklankan sebuah produk, kita diharapkan merespon pada imaji mereka sebagai seseorang yang ideal, dan lantas mengemulasikan hal tersebut dengan mengasosiasikan diri kita sendiri dengan imaji yang mana para bintang tersebut mengasosiasikan dirinya. Contohnya, saat Dian Sastro mengenakan kaos kaki panjang sebagai seragam sekolah SLTA-nya saat ia terasosiasikan dengan film "Ada Apa Dengan Cinta", perhatikan berapa banyak dari perempuan SLTA yang juga lantas mengenakan kaos kaki panjang sekaligus memanjangkan rambut untuk mengasosiasikan diri mereka dengan imaji Dian Sastro, yang mereka anggap sebagai seseorang yang ideal.

Tetapi proses tersebut juga melangkah lebih jauh: spectacle menjadi topik utama obrolan, diskusi dan bahkan juga subyek bagi spectacle lanjutan (misalnya, maraknya diskusi mengenai teori "simulacra" dari Baudrillard di kalangan mahasiswa filsafat yang hanya berujung pada pengkonsumsian lebih banyak buku tapi mengalienasi mereka dari kenyataan itu sendiri). Pembicaraan anak-anak kawasan urban juga dimonopoli oleh argumen-argumen soal program acara televisi yang mereka tonton hari sebelumnya. Komunikasi tentang pengalaman hidup yang nyata menjadi komunikasi spectacle dan soal spectacle, komunikasi atas pengalaman pasifitas, non-komunikasi. Spectacle secara umum digunakan untuk menamai irama relasi sosial yang non-komunikasi, irama isolasi. Tujuan utama komunikasi adalah sebuah dialog pengalaman nyata, bukanlah sebuah pertukaran kepasifan yang didominasi oleh teknologi yang dikembangkan dalam spectacle.

Mimpi buruk spectacle, imaji-imaji yang mengambil "hidup" dari kehidupan itu sendiri, sepenuhnya telah terealisasikan saat dengan sadar orang-orang berusaha untuk menghidupkan imaji-imaji yang dianggap dapat merepresentasikan diri mereka: bahkan juga dalam urusan bercinta, yang seharusnya momen potensial dari bentuk komunikasi sempurna (kesatuan dari pemberian-kenikmatan dan pengambilan-kenikmatan), kini secara konstan berusaha merepresentasikan imaji diri mereka sendiri pada sesamanya; kontak langsung dan juga fisikal dari dua orang manusia telah lenyap dalam percintaan palsu yang mengandalkan imaji-imaji spektakular.

Sementara itu, barang dan jasa (komoditi) diproduksi oleh proletariat yang juga menjadi bagian aktif dari spectacle, dijual kembali pada proletariat yang memproduksi mereka adalah sebuah pola yang didorong oleh spectacle: dengan iklan dan dorongan konsumsi yang membludak. Konsumsi komoditi menjadi satu-satunya bentuk konsumsi. "Semakin lama, semakin sedikit pertukaran yang tidak dilakukan tanpa eksistensi uang". Pengalienasian para spektator demi kepentingan obyek kontemplasinya, dapat diekspresikan antara lain sebagai berikut, "semakin ia berkontemplasi semakin kurang ia hidup; semakin ia menerima dan menemukan dirinya dalam imaji-imaji kebutuhan dominan, semakin ia tidak memahami eksistensinya dan hasratnya sendiri. Dalam hal tersebut semua gerak-geriknya tak lagi menjadi miliknya melainkan milik semua yang lain yang merepresentasikan diri dalam seseorang tersebut." (Guy Debord, The Society of the Spectacle).

Maka dapat dianggap juga bahwa spectacle adalah kapital yang dalam tingkat tertentu telah berakumulasi menjadi imaji, menjadi tampilan. Semenjak dunia masa kini dikendalikan oleh kapital yang mengkonsentrasikan pada dirinya sendiri, spectacle adalah kapital yang menciptakan sebuah dunia yang berisi imajinya sendiri. Kapital adalah tuhan material, dan spectacle adalah agama (ideologi) materialnya. Spectacle, dalam berbagai bentuknya telah menguasai dunia: dunia yang merepresentasikan dirinya sebagai dunia nyata.

Engkau ingin kaya raya, kini tak perlu mencari uang bertumpuk tetapi cukup mengenakan tampilan seperti layaknya orang-orang kaya. Engkau ingin memberontak, cukup mengenakan pakaian yang penuh dengan imaji-imaji pemberontakan (gambar wajah Che Guevara atau mengkoleksi buku-buku karya Karl Marx). Engkau ingin pintar, cukup menamatkan kuliah dan menyematkan titel akademismu dalam setiap pencantuman namamu. Engkau ingin peduli sosial, cukup beritakan bahwa engkau telah menyumbangkan sejumlah uang pada mereka yang sedang berkesusahan uang. Engkau ingin menjadi muslim/muslimah yang beriman, cukup kenakan pakaian tradisional muslim/muslimah, melaksanakan shalat atau berpuasa saat Ramadhan. Engkau ingin dianggap bersolidaritas dengan mereka yang miskin, cukup tampilkan dirimu dengan pakaian yang dikenakan orang-orang miskin. Dan masih banyak contoh lain tentang bagaimana kita melibatkan diri kita dalam spectacle di kehidupan kita sehari-hari, yang menjadi bukti bahwa spectacle adalah aturan dominan masyarakat paling modern dewasa ini.


Catatan tambahan:

Contoh soal membeli televisi dan perangkat home-theater dapat dibawa lebih jauh dari sekedar kepasifan menonton televisi yang memang terlalu jelas. Pasifitas bukan sekedar duduk menonton, tetapi berpikir juga dapat dianggap pasifitas semenjak tak ada gerakan yang dilakukan. Ada beberapa relasi sosial yang perlu dianalisa di sini. Bukan sekedar televisinya yang membuat orang menjadi pasif, tetapi juga relasi yang ditampilkan dalam program-program acara televisi juga perlu diperhatikan, seperti maraknya acara talkshow, realitas, debat publik, dsb. yang juga adalah tampilan imaji (misalnya, bagaimana acara debat publik dan dialog yang ditampilkan di televisi sebenarnya adalah juga sekedar imaji dari demokrasi).

Contoh Tony Blair yang berjabatan dengan Aa’ Gym, lebih jelasnya, memperlihatkan Blair yang secara spektakular menjabat erat kebijakan Aa’ Gym, bukan sekedar Aa’ Gym. Tetapi melihat Blair sebagai "Inggris" dan Aa’ Gym sebagai "muslim Indonesia" jelas adalah juga pandangan spektakular, semenjak seluruh kebijakan Blair adalah kebijakan sistem, demikian juga kebijakan Aa’ Gym, yang mana kebijakan keduanya tak dapat diterapkan sebagai kebijakan semua orang Inggris ataupun semua orang muslim di Indonesia.

"Bintang film", "bintang olah raga" dan "bintang musik" sesungguhnya juga sekedar produk. Mereka adalah imaji yang dipisahkan dari diri mereka sebagai manusia oleh relasi sosial para konsumennya dan juga produsennya. Spectacle hanya dapat muncul apabila ada sebuah relasi mutual antara imaji dan konsumen imajinya, yang akan menghasilkan pemenuhan palsu hidup yang teralienasi. Semua itu hanya mungkin terjadi dengan adanya relasi sosial seperti demikian.

Alienasi dan isolasi seharusnya dipahami bukan sekedar sebagai "keterpisahan individu dari individu lainnya" melainkan juga sebagai keterpisahan aktifitas manusia dari obyek aktifitasnya sendiri.

* * *
APPENDIX II

Artikel berjudul "On the Poverty of Student Life" di atas pertama kali dipublikasikan dalam bentuk pamflet sejumlah 10.000 eksemplar dan didistribuskan saat sedang diadakan inisiasi bagi para mahasiswa baru di universitas Strasbourg, Perancis pada tahun 1966. Aksi pembajakan tersebut dilakukan oleh sekelompok mahasiswa radikal yang bekerja sama dengan organisasi Situationist International, menginfiltrasi himpunan mahasiswa, menggelapkan seluruh uang milik himpunan untuk digunakan membiayai seluruh proses cetak pamflet tersebut. Terdistribusikannya pamflet tersebut tercatat sebagai salah sebuah pemicu awal meletusnya pemberontakan mahasiswa Paris yang merembet pada pemogokan pekerja nyaris di seluruh kota Paris, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Paris ‘68. Atas pendistribusian pamflet tersebut, jajaran universitas dibantu oleh jajaran kepolisian melakukan penyisiran dan penangkapan mereka yang dianggap terlibat. Berikut adalah kutipan dari somasi hakim dalam pengadilan kelima mahasiswa yang dianggap bertanggung jawab atas terdistribusikannya secara luas "On the Poverty of Student Life" di universitas Strasbourg, yang ironisnya justru secara tepat mendeskripsikan aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa tersebut dalam tujuannya:

"Tuntutan berikut, yang tak mengabaikan tuduhan atas penyalahgunaan dana milik serikat mahasiswa. Jelas, mereka secara terbuka menyatakan telah membuat serikat mahasiswa membayar sekitar 1500 france untuk mencetak dan mendistribusikan sekitar 10.000 pamflet, belum termasuk biaya mencetak literatur-literatur lain yang terinspirasi oleh "Situationist International". Publikasi-publikasi tersebut mengekspresikan ide-ide dan aspirasi-aspirasi yang, untuk memperjelasnya, tidak memiliki kaitan apapun dengan tujuan pembentukan serikat mahasiswa. Seseorang cukup membaca tuduhan yang tertulis di dalamnya, yang tak pelak lagi bahwa kelima mahasiswa ini, tidak lebih dari sekedar remaja yang belum cukup pengalaman dalam hidup, pikiran mereka terkacaukan dengan intisari yang menyesatkan dari teori-teori filsafat, sosial, politik dan ekonomi, dan dibingungkan oleh kemonotonan hidup keseharian mereka yang membosankan, membuat klaim yang kosong, arogan dan menyedihkan untuk melancarkan penghakiman yang definitif, memasukkan cercaan yang langsung terhadap sesama rekan mahasiswa mereka, guru-guru mereka, Tuhan, agama, klerik, pemerintahan dan sistem-sistem politik di seluruh dunia. Mengabaikan seluruh aturan dan moral, orang-orang sisnis ini juga tak ragu-ragu merekomendasikan pencurian, penghancuran nilai kesarjanaan, penghapusan dunia kerja, subversi total dan sebuah revolusi proletarian di seluruh dunia dengan "hasrat yang ilegal" sebagai tujuan utamanya.

"Dalam pandangan karakter dasar mereka yang anarkistik, teori-teori dan propaganda tersebut sungguh-sungguh berbahaya. Penyebaran mereka yang luas baik di lingkaran mahasiswa dan masyarakat umum, oleh lembaga media lokal, nasional dan asing, adalah sebuah ancaman terhadap moralitas, lembaga pendidikan, reputasi dan juga masa depan para mahasiswa di universitas Strasbourg."

* * *
Keterangan terjemahan:

Artikel (minus appendix) di atas diterjemahkan dari versi bahasa Inggris berjudul "On the Poverty of Student Life" yang dimuat dalam buku Situationist International Anthology yang diedit oleh Ken Knabb dan dipublikasikan oleh Bureau of Public Secrets. Diterjemahkan dan diadaptasi dalam bahasa Indonesia pertama kali tahun 2002 oleh kolektif Polusi, Bandung, dengan judul "Kemiskinan Mahasiswa"; diterjemahkan ulang dan dipublikasikan tahun 2004 oleh kolektif Kontra-Kultura, Bandung, dengan judul "Tentang Kemiskinan Hidup Mahasiswa"; diedit ulang, direvisi dan ditambahkan appendix I dan II 28 November 2006 oleh Pam. Diperiksa dan dilengkapi kembali dengan bagian-bagian yang hilang pada Agustus 2010 oleh Andre Barahamin.

Chapter Pertama dari pamflet ini dapat dibaca di:
Chapter Kedua dari pamflet ini dapat dibaca di:

0 komentar:

Posting Komentar