Senin, 03 Februari 2014

Tawaran-Tawaran Untuk Pengembangan Rasional Kota Paris


Para anggota gerakan Lettrist Internasional melakukan rapat bersama pada 26 September dan melahirkan tawaran-tawaran terkait berbagai masalah urbanistik yang muncul dalam diskusi tersebut. Mereka menegaskan bahwa aksi konstruktif tidak akan dipertimbangkan, semenjak mereka semua sepakat bahwa tugas yang paling utama adalah membersihkan lahan.

Stasiun kereta bawah tanah seharusnya dibuka pada malam hari setelah kereta-kereta tak lagi beroperasi. Koridor-koridor dan gerbong-gerbong kereta mesti diberikan cahaya remang-remang, dengan lampu yang berkedip-kedip yang mati menyala sesekali.

Atap-atap rumah di Paris semestinya dibuka untuk lalu lintas pejalan kaki dengan memodifikasi tangga-tangga fire-escape[1] dan membangun jembatan jika perlu. Taman-taman publik seharusnya tetap dibuka pada malam hari, dan dibiarkan gelap. (Dalam beberapa kasus, pencahayaan redup yang stabil bisa dibenarkan di lapangan psikogeografikal.)

Lampu-lampu jalan seharusnya dilengkapi dengan tombol-tombol yang membuat setiap orang bisa mengatur pencahayaan seperti keinginan mereka.

Terkait bangunan gereja, ada empat solusi berbeda yang ditawarkan, yang mana seluruhnya dinilai dapat dipertahankan sampai memungkinkan dilakukan eksperimen yang sesuai, yang mana akan memperlihatkan usulan mana yang terbaik.

G. E. Debord mengajukan pendapat tentang penghancuran total dari bangunan-bangunan religius dari segala denominasi, tanpa meninggalkan jejaknya sama sekali dan menggunakan situs tersebut untuk tujuan lain.

Gil J. Wolman mengusulkan bahwa gereja-gereja dapat dibiarkan berdiri setelah seluruh konten religiusnya dilucuti. Mereka mesti diperlakukan seperti bangunan biasa, dan anak-anak dapat dibiarkan bermain di dalamnya.

Michèle Bernstein menyarankan bahwa gereja-gereja dapat dihancurkan sebagian, sehingga sebagian lagi yang tersisa tidak lagi dapat memberi petunjuk terhadap fungsi orisinilnya (Tur Jacques di Boulevard de Sébastopol[2] dapat menjadi contoh yang tidak disengaja). Solusi ideal sebenarnya adalah dengan menghancurkan gereja hingga rata dengan tanah dan membangun reruntuhan di atasnya. Metode yang pertama murni diusulkan untuk alasan ekonomi.

Yang terakhir, Jacques Fillon mengutarakan ide untuk mengubah gereja-gereja menjadi rumah-rumah horor (dengan mengolah ambiens yang terdapat di sana saat ini dengan menonjolkan efek-efek menakutkan yang dimiliki gereja).

Semuanya sepakat bahwa tujuan-tujuan estetik mesti ditolak, bahwa para pengagum portal-portal Chartress[3] mesti dibungkam. Keindahan, saat ia tidak mengarah kepada kebahagiaan, mesti dihancurkan. Dan apa yang dapat melampaui representasi menjijikan atas ketidakbahagiaan selain monumen-monumen tersebut yang membuat segala sesuatu di dunia yang masih harus diatasi, menyangkut sejumlah aspek kehidupan yang tetap tidak manusiawi?

Stasiun-stasiun kereta mesti dibiarkan apa adanya. Kejelekan yang menyedihkan dari bangunan tersebut justru berkontribusi pada perasaan fana yang membuatnya menjadi agak menarik. Gil J. Wolam mengusulkan pemindahan atau mengacak-acak semua informasi mengenai keberangkatan (tujuan, jadwal, dll) untuk memfasilitasi proses dérive. Setelah debat yang berlangsung hangat, mereka yang menentang mosi ini mencabut keberatanmereka dan dengan sepenuh hati menerima usulan tersebut. Juga telah disetujui bahwa latar sura di stasiun-stasiun mesti diintensifkan dengan menyiarkan berbagai rekaman dari stasiun-stasiun lain, juga dari pelabuhan-pelabuhan tertentu.

Pekuburan mesti dieliminasi. Seluruh bangkai dan memorial-memorial terkait mesti dihancurkan seluruhnya hingga tak ada yang tersisa selain abu. (Juga penting untuk dicatat bahwa sisa-sisa mengerikan dari masa lalu yang mengalienasi merupakan propaganda reaksioner yang subliminal. Apakah mungkin melihat pemakaman dan tidak diingatkan dengan Mauriac[4], Gide[5] atau Edgar Faure[6]?)

Museum-museum mesti dihancurkan dan karya-karya terbaik mereka didistribusikan ke bar-bar (karya-karya Philippe de Champaigne diletakkan di kafe-kafe Arab yang terletak di jalan Xavier-Privas; karya Sacre dari David diberikan kepada Tonneau yang terletak di jalan Montagne-Geneviève).

Setiap orang mestilah memiliki kebebasan untuk mengakses penjara. Yang mana penjara-penjara mestilah terbuka sebagai destinasi turis, dengan tidak ada pembedaan antara pengunjung dan tahanan. Untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih menarik, akan dilakukan undian bulanan yang akan dikuti oleh para pengunjung untuk memenangkan hukuman penjara yang nyata. Hal ini dapat diperuntukkan kepada para imbesil yang merasa kebutuhan imperatif untuk mengalami resiko-resiko yang tidak menyenangkan seperti: spelunker, sebagai contoh, dan orang-orang lain yang berkeinginan untuk bermain pseudo-game remeh seperti itu.)

Sementara itu bangunan-bangunan yang kejelekannya tidak dapat lagi difungsikan untuk tujuan yang lain (seperti Petit[7] atau Grand Palais[8]) harus membuka jalan untuk penciptaan konstruksi lain. Patung-patung yang tak lagi memiliki arti, dan masih memiliki kemungkinan perbaikan-perbaikan estetika yang tak terelakkan lagi telah dikutuk oleh sejarah, mesti dihancurkan. Ketiadaan fungsi tersebut dapat diperpanjang selama tahun-tahun terakhir mereka dengan mengubah inskripsi di tumpuan-tumpuan, baik dari artian politis (The Tiger dinamakan Clemenceau di Champs Élysées) atau yang bertujuan disorientasi (Penghormatan Dialektik untuk Demam dan Kina yang terletak di persimpangan Boulevard Michel dan jalan Comte, atau The Great Depths di plaza katedral Île de la Cité ).

Dalam rangka untuk mengakhiri pengaruh para idiot dari nama-nama jalan saat ini, nama-nama dari kanselir kota, pahlawan-pahlawan Resistance, seluruh Émiles dan Édouards (55 buah jalan di Paris), seluruh Bugeauds and Gallifets[9] dan secara umum seluruh nama-nama cabul (jalan de l’Évangile) mesti dilenyapkan.

Dalam tujuan itu, seruan yang dilluncurkan dalam Potlatch #9 bermaksud untuk mengabaikan kata "santo (atau suci)" sebagai nama-nama tempat menjadi lebih relevan dibanding sebelumnya.


LETTRIST INTERNATIONAL 
Oktober 1955



[Catatan Penerjemah]


Judul artikel ini merupakan parodi dari “Tawaran Untuk Pengembangan Irasional Sebuah Kota" yang diterbitkan dalam majalan Le Surréalisme au Service de la Révolution #6, 1933.

[1] Tangga-tangga darurat yang biasanya terletak di bagian luar gedung bertingkat yang digunakan sebagai jalan keluar alternatif ketika terjadi kebakaran.

[2] Boulevard de Sébastopol merupakan salah satu jalan penting di Paris sepanjang 1,3 km yang berawal dari du Châtelet dan berakhir di boulevard Saint-Denis. Boulevard ini terdiri dari empat lajur kendaraan, salah satunya disediakan untuk bus. 

[3] Chartres Cathedral, atau juga dikenal dengan nama Cathedral Basilica of Our Lady of Chartres (dalam bahasa Prancis: Basilique Cathédrale Notre-Dame de Chartres). Katedral Katholik Romawi yang dijadikan situs warisan dunia oleh UNESCO.

[4] François Charles Mauriac, penulis berkebangsaan Prancis yang menerima Hadiah Nobel Sastra pada 1952.

[5] Andre Gide, penulis Prancis terkemuka yang populer dengan gerakan simbolisnya. Gide menerima Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1947.

[6] Edgar Faure merupakan politisi Prancis yang juga merupakan seorang sejarahwan. Faure pernah menduduki posisi sebagai Perdana Menteri Prancis.

[7] Yang dimaksud adalah Petit Théâtre de Paris. Ia merupakan gedung teater klasik yang pertama kali dibangun pada 1730 oleh Duke Richelieu.

[8] The Grand Palais des Champs-Elysées, dibangun pada 1897 dan merupakan sebuah situs bersejarah yang besar, sekaligus berfungsi sebagai ruang pameran dan museum yang terletak di Jalan Champs-Élysées, Paris, Prancis.

[9] Bugeaud dan Gallifet merupakan jenderal Prancis pada abad ke 19. Bugeaud bertanggung jawab atas penaklukan Aljazair, sedangkan Gallifet merupakan jenderal yang menghancurkan Komune Paris.

Artikel ini dalam bahasa Prancis berjudul “Projet d’embellissements rationnels de la ville de Paris” dan dipublikasikan pertama kali di majalah Potlatch #23 (Paris, 13 Oktober 1955). Terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan tambahan keterangan dikerjakan oleh Andre Barahamin, Agustus 2012.

0 komentar:

Poskan Komentar